Calon Doktor “Predator”

158 views
Kasus perkosaan Reynhard Sinaga terhadap 159 pria Inggris jadi perbincangan di TV.

JIKA bisa memilih sebelum dilahirkan, bayi pun tak mau turun ke bumi sebagai makhluk gay, yang menyukai sesama jenis sebagaimana umatnya Nabi Luth. Tapi karena takdir Allah menentukan begitu, si bayi tinggal menjalani saja hidup seperti itu hingga dewasa, sampai kemudian ketahuan kelainan jiwanya bahwa dia seorang LGBT (Lesbi, Gay, Bisex, Transgender).

Masyarakat pada umumnya tak bisa memberi ruang orang-orang berkelainan semacam itu, bahkan terkesan jijik berdekatan dengannya. Tak masuk di akal bagi manusia normal, lelaki kok menyukai lelaki. Jika olahraga, kan sama saja bermain anggar. Kalau anggar bisa masuk cabang olahraga yang dipertandingkan di PON, bahkan Asian Games, atletnya dielu-elukan. Lha kalau “atlet” LGBT, siapa yang mau menyeponsori, memberikan piala dan piagam. Didekati saja ogah.

Mereka terkucil di lingkungan sendiri, sehingga kalau di Jakarta membentuk komunitas untuk berkumpul-kumpul di Taman Lawang, Menteng. Tapi karena perbuatan mereka sering mengganggu lingkungan, akhirnya jadi sering ditertibkan oleh Kamtib istilah dulu atau Satpol PP istilah sekarang. Tapi Alhamdulillah, kini stigma Taman Lawang sebagai pangkalan LGBT sudah mulai menghilang.

Reynhard Sinaga, adalah salah satu praktisi LGBT Indonesia. Mungkin dia tak pernah berkiprah di Taman Lawang, justru debutnya dimulai di Inggris. Tapi sekali berkiprah benar mengguncangkan dunia dan memalukan Indonesia. Bagaimana tidak? Calon doctor itu diajukan ke Pengadilan Inggris, gara-gara jadi “predator seks”. Di Manchester dia telah memperkosa 159 lelaki.

Reynhard Sinaga anaknya cakep, pintar lagi. Karena orangtua kaya, tak sayang biayai Reynhard Sinaga, 36, menempuh S-3 di Inggris. Tapi apa lacur, sang diaspora  di negeri orang malah bikin malu bangsa. Di kota Manchester itu si calon doktor ini malah menjelma jadi “predator seksual”, di sela-sela jam studinya dia suka kelayapan mencari mangsa. Korbannya yang berusia antara 17-36 tahun diajak minum-minum ke apartemennya, setelah mabok barulah “dihajar” habis.