Kraton Agung Sejagad

260 views
Raja Totok Santosa Hadiningrat - permaisuri Kanjeng Ratu Dyah Gitarjo dikawal para hulu balangnya.

DI era milenial yang serba digital, jika kepengin jadi raja dan ratu sebaiknya ikut main kethoprak mataram saja. Tetapi di Desa Pogung Jurutengah Kec. Bayan, Purworejo (Jateng), di jaman kuda minum bensin dan bermesin matic, ada suami istri yang menasbihkan diri sebagai raja dan permaisuri. Nama kerajaannya adalah: Kraton Agung Sejagad, punya “kawula” sebanyak 450 orang, dan sang raja minta dipanggil sebagai Sinuwun.

Jaman dulu, untuk menjadi raja harus gedhe tirakate (banyak laku prihatin) sampai kemudian kewahyon atau diberkahi oleh Allah Swt. Sekarang wahyu sudah tidak ada lagi. Dulu ada Wahyu Sihombing sutradara film, tapi sudah lama meninggal. Kalau ada paling-paling tinggal Wahyu Setiawan komisioner KPU, itupun sudah ditangkap KPK karena terlibat “permainan” PAW (Pergantian Antar Waktu) di DPR.

Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya), Sutawijaya (Panembahan Senopati), Pangeran Puger (Paku Buwono I),  RM  Sudjana (Sultan Hamengku Buwono I), RM Said (Mangkunagoro I); menjadi raja di kasultanan Pajang sampai raja dinasti Mataram, pakai perjuangan berat. Ada yang dengan mengangkat senjata, ada pula karena dukungan penjajah Belanda.

Tapi Totok Santosa dan istrinya, Fanni Aminadia, jauh dari itu semua. Tiba-tiba saja 12 Januari lalu mendirikan kerajaan di Desa Pogung Jurutengah Kec. Bayan, Kab. Purworejo. Kedatonnya bukan istana megah berpilar kayu jati glondongan, berhiaskan emas dan mutu manikam, tapi cukup tanah kosong berpondasi, sementara di tengahnya terdapat saka guru 4 buah, berdiri membisu tak peduli di sekitarnya banyak orang menggelar prosesi “jumenengan” (pelantikan raja) dengan pakaian khas seperti punggawa kerajaan sebenarnya.

Sebagai raja Totok Santosa minta dipanggil Sinuwun Totok Santosa Hadiningrat, sedangkan istrinya Fanni Imanadia menjadi Kanjeng Ratu Dyah Gitarja. Abdi dalemnya konon berjumlah 450 orang. Mereka bukan digaji oleh raja, tapi justru para abdi dalem itu yang menggaji raja. Soalnya untuk menjadi abdi dalem Kraton Agung Sejagad harus membayar puluhan juta, termasuk pembelian pakaian seragam seharga Rp 3 juta.