RAMA GANDRUNG (2)

478 views
Menyamar sebagai kakek renta, Dasamuka mendekati Dewi Sinta dengan kostum seperti wayang radikal.

BIASA perempuan, nggak Dewi Sinta nggak Dewi Persik, jika sudah marah bisa melebar ke mana-mana, nyinyir bahasanya orang sekarang. Untung saja istri Rama ini tak pegang HP, sehingga kejengkelan atas Lesmana tak diunggah masuk medsos. Tapi lama-lama pengeng (capek) juga telinga Lesmana mendengar omongan Dewi Sinta yang merepet-repet, yang menuduh dirinya tak berbakti dan empati pada kakak sendiri ketika dalam bahaya. Lagi-lagi seperti kata Asmuni Srimulat, adik cap apa Lesmana ini?

“Ya sudah mbakyu Sinta, jaga baik-baik dirimu di sini, jangan pergi ke mana sebelum kami kembali.” Ujar Lesmana agak dongkol.

“Nah, gitu dong, itu baru namanya adik sejati.” Jawab Dewi Sinta lagi.

Namun demikian Lesmana kurang yakin juga, sehingga dia bikin garis melingkar  5 meter dari as, yakni tempat Dewi Sinta berdiri. Dia berpesan, jangan sampai keluar dari garis itu. Lesmana sengaja pasang aji jaya kawijayan (ilmu kesaktian) semacam tunggeng, di mana orang jahat takkan bisa masuk, bahkan dia tak mampu bergerak ke mana-mana, nyaris mirip patung Reca Nggladag di pintu gerbang kraton Surakarta sebelah utara.

Lesmana pun segera berangkat mencari kakaknya, Rama Wijaya. Meski ada HP karena sudah kehabisan strom dan tak ada sinyal pula, dia berjalan berdasarkan perasaan saja, kira-kira ke mana Rama memburu rusa misterius tersebut. Dia tak yakin bisa ketemu dengan cepat mengingat betapa luasnya hutan Dandaka. Hutan itu masih demikian pekat, karena belum ada Kepala Daerah memperjual-belikan alih fungsi lahan dengan pengusaha.

“Kangmas Rama, di mana kamu……?” teriak Lesmana disusul dengan suitan pakai mulut.

“Tit tit thuit, cingkurung gelung…..ndi bocahe, ndi bocahe……” demikian jawaban makhluk lain, berupa kicauan satwa hutan jenis burung-burungan.