RAMA GANDRUNG (2)

Menyamar sebagai kakek renta, Dasamuka mendekati Dewi Sinta dengan kostum seperti wayang radikal.

BIASA perempuan, nggak Dewi Sinta nggak Dewi Persik, jika sudah marah bisa melebar ke mana-mana, nyinyir bahasanya orang sekarang. Untung saja istri Rama ini tak pegang HP, sehingga kejengkelan atas Lesmana tak diunggah masuk medsos. Tapi lama-lama pengeng (capek) juga telinga Lesmana mendengar omongan Dewi Sinta yang merepet-repet, yang menuduh dirinya tak berbakti dan empati pada kakak sendiri ketika dalam bahaya. Lagi-lagi seperti kata Asmuni Srimulat, adik cap apa Lesmana ini?

“Ya sudah mbakyu Sinta, jaga baik-baik dirimu di sini, jangan pergi ke mana sebelum kami kembali.” Ujar Lesmana agak dongkol.

“Nah, gitu dong, itu baru namanya adik sejati.” Jawab Dewi Sinta lagi.

Namun demikian Lesmana kurang yakin juga, sehingga dia bikin garis melingkar  5 meter dari as, yakni tempat Dewi Sinta berdiri. Dia berpesan, jangan sampai keluar dari garis itu. Lesmana sengaja pasang aji jaya kawijayan (ilmu kesaktian) semacam tunggeng, di mana orang jahat takkan bisa masuk, bahkan dia tak mampu bergerak ke mana-mana, nyaris mirip patung Reca Nggladag di pintu gerbang kraton Surakarta sebelah utara.

Lesmana pun segera berangkat mencari kakaknya, Rama Wijaya. Meski ada HP karena sudah kehabisan strom dan tak ada sinyal pula, dia berjalan berdasarkan perasaan saja, kira-kira ke mana Rama memburu rusa misterius tersebut. Dia tak yakin bisa ketemu dengan cepat mengingat betapa luasnya hutan Dandaka. Hutan itu masih demikian pekat, karena belum ada Kepala Daerah memperjual-belikan alih fungsi lahan dengan pengusaha.

“Kangmas Rama, di mana kamu……?” teriak Lesmana disusul dengan suitan pakai mulut.

“Tit tit thuit, cingkurung gelung…..ndi bocahe, ndi bocahe……” demikian jawaban makhluk lain, berupa kicauan satwa hutan jenis burung-burungan.

Berulangkali memanggil nama Rama, jawabannya monoton, kicauan burung belaka, seakan mereka mengatakan bahwa Rama ada di sono, tapi sayangnya Lesmana tak paham bahasa burung. Dia memang bukan Prabu Anglingdarma yang menguasai bahasa binatang termasuk cicak-cicak di dinding diam-diam merayap……

Ketika Lesmana semakin menjauhi lingkaran Dewi Sinta munculah seorang kakek-kakek berjubah, jalan tertatih-tatih mendekati posisi istri Rama tersebut. Dia berkethu putih, berjenggot, pakai sandal jepit, di balik jubah terdapat celana panjang ngatung; mengesankan dia wayang radikal. Mulutnya juga tertutup masker, meski kondisi udara di tengah hutan dijamin kaya O2 miskin CO2.

“Den, paring-paring den, sudah dua hari gua nggak makan.” Ujar si kakek renta sambil mengangsurkan tangan seperti orang minta-minta.

“Dua hari nggak makan kok malah mulut tutupan masker?” Tanya Dewi Sinta.

“Oo, ini jaga-jaga wabah virus Corona, den.”

“Sebentar ya kek…..”

Si kakek renta menyadari bahwa radius sekitar Dewi Sinta dipasangi guna desti (penangkal kejahatan). Tapi sebagai kakek berilmu, guna-guna bikinan Lesmana itu dengan mudah dilumpuhkan. Dia tanpa kesulitan mengangsur masuk garis lingkaran imajinir untuk Dewi Sinta. Maka begitu istri Rama ini mengangsurkan tangan untuk memberikan sejumlah buah-buahan, langsung disamber si kakek yang ternyata penjelmaan Prabu Dasamuka, wush…….

“Kena kau! Ha ha ha….., kenalkan nih gue, Prabu Dasamuka, raja Ngalengka, raja segala raja termasuk kerajaan Agung Sejagad dari Purworejo, ha ha ha…..!” ujar Dasamuka sambil sesumbar penuh kemenangan. Dewi Sinta sudah dalam kekuasaannya.

“Lepaskan aku Dasamuka, lepaskan aku! Toloooong!” teriak Dewi Sinta dengan tubuh kroncalan, berusaha melepaskan diri, persis burung dalam jaring seorang pemburu.

Tentu saja Dasamuka tidak peduli. Dia segera terbang mengangkasa, dengan menggendong Dewi Sinta di punggung, ngetapel mirip balita digendong belakang oleh orangtuanya. Dan di atas langit 1.000 kaki (1 kaki = 30 Cm) atau sekitar 300 meter di atas bumi, Dasamuka terus ngebut dengan kecepatan di atas 80 Km/jam, kecuali di atas kompleks militer. Prabu Dasamuka memang tidak berani terbang tinggi, karena dia sendiri mudah singunen (takut ketinggian) gara-gara punya penyakit darah tinggi atau ludira inggil.

“Toloooong, tolooooong, lepaskan aku Prabu Dasamuka.” Dewi Sinta terus melolong-lolong seperti babi mau dipotong di abatoar.

“Diam kau! Di ketinggian 1.000 kaki begini  minta dilepaskan, mau mati kau? Tenang saja, kau jadi biniku bakal hidup makmur, tinggal mamah karo mlumah (makan dan melayani di ranjang). Ha ha ha……” jawab Prabu Dasamuka cengengesan dan cekakakan macam artis di TV swasta Indonesia.

Lolongan dan rintihan Dewi Sinta ternyata tak lama kemudian terdengar oleh seekor burung raksasa, bernama Peksi Jathayu. Meski hanya seekor burung dia mampu tata jalma (ngomong bahasa manusia). Dia sangat tersentuh mendegar lolongan menyayat hati Dewi Sinta, karenanya dia segera mengejar arah suara itu. Oo, ternyata seorang wanita cantik tengah dibawa terbang oleh seseorang, jangan-jangan pelaku human trafficking (perdagangan manusia).

Tapi begitu Peksi Jathayu mengenakan kacamata minusnya, ya ampuuun…… ternyata dia adalah raja Ngalengka Prabu Dasamuka, tokoh lama dalam dunia percewekan. Ya, soalnya dalam jagad maya nama Dasamuka sangat terkenal. Ketik saja di Mbah Google “raja doyan perempuan”, maka akan segera muncul nama Prabu Dasamuka berikut gambar wajahnya.

“Hai Dasamuka, lepaskan perempuan itu! Nggak ada kapoknya ente, ingat umur dong!” sergah Peksi Jathayu keras dan kasar. Dasamuka memang sudah berusia oversek (over seket = 50 tahun lebih).

“Ngapain kamu ngurusi urusan orang?  Minggir, gue kepret lu….” Ancam Prabu Dasamuka, lagaknya seperti eks Menko Maritim Rizal Ramli.

Peksi Jathayu mana takut. Dia surut ke belakang, lalu ancang-ancang menghantamkan sayap kanannya ke kepala Dasamuka, ditambah cakaran kaki ke muka. Langsung Prabu Dasamuka oleng, Dewi Sinta terlepas dan disambar Peksi Jathayu untuk diselamatkan ke tempat aman.

Dalam kondisi pingsan Prabu Dasamuka meluncur deras ke bumi, dan bum…. jatuh tepat di cor-coran beton lapangan Monas yang tengah direvitalisasi oleh Pemprov DKI, tapi dimasalahkan oleh Kemensesneg. Jika wayang kelas biasa, pasti langsung gepeng, wasalam ora ngukup (tewas). Tapi karena dia memiliki aji Pancasona, hanya sebentar tewas dan kemudian hidup lagi.

“Kurang ajar Peksi Jathayu, gue kok dilawan. Awas lu ya….” Teriak Prabu Dasamuka sambil cabut pathok besi bekas bouwplang proyek.

Dia kembali terbang ke angkasa langit lepas. Paksi Jathayu yang tengah membawa Dewi Sinta berhasil dikejarnya, dan potongan besi itu langsung dihantamkan ke sayap kanan Paksi Jathayu hingga sengkleh (nyaris patah) dan meluncur deras ke bumi. Sedangkan Dewi Sinta yang  terlepas dari Peksi Jathayu kembali disambar Prabu Dasamuka dibawa kabur, terbang menuju negara Ngalengkadiraja. (Ki Guna Watoncarita)