RAMA GANDRUNG (3)

Peksi Jathayu menjawab semua pertanyaan Rama Wijaya dengan kepala lunglai. Akhirnya, setelah menyebut nama "negeri Ngaleng" burung raksasa itu wasalam.

TAHU-tahu perburuan Rama Wijaya sampai DTW (Daerah Tujuan Wisata) Telaga Sarangan, tempatnya margasatwa mandi berkecipuk ria, bebas menghias diri berkicau murai di tepian telaga. Kolam air ciptaan Tuhan, dipagar bukit-bukit rimba, tempat insan datang untuk menghibur lara. Di kakinya Gunung Lawu, di situ letaknya. Kagum aku memandang keindahanmu oh rahasia alam.

Biar bukan wayang sumbu pendek, Rama Wijaya tak bisa berlama-lama dipermainkan oleh kidang kencana yang terus menggoda dan meledek dirinya. Takut semakin jauh dari tempat Dewi Sinta, busur pun direntang dan panas dilepaskan, jebret. Kena sudah! Tapi setelah berteriak athooooo……pertanda kesakitan, si rusa bukannya ambruk tapi justru berubah jadi manusia setengah raksasa, Kala Marica. Kembali ke wujud aslinya, dia langsung terbang tinggi menyusul tuannya, Prabu Dasamuka.

“Tungguin gue dong, jangan main tinggal saja!” teriak Kala Marica.

“Pulang sendiri, gue repot nih….!” Jawab Prabu Dasamuka sayup-sayup sampai.

Adegan itu demikian singkat, hanya sekelebatan. Rama Wijaya begitu sadar telah dikadalin wayang asing, segera balik bakul kembali ke tempat Dewi Sinta ditinggalkan bersama adiknya, Lesmana. Nalurinya mengatakan, telah terjadi sesuatu sepeninggalnya. Jangan-jangan Dewi Sinta dalam bahaya, jangan-jangan… jangan gudeg sambel krecek!

Tak lama kemudian mak gabrusss….., hampir saja Rama bertabrakan dengan Lesmana pas di tikungan tengah hutan yang tentu saja tanpa lampu bangjo (traffic light). Keduanya sama-sama kaget.  Rama kaget kenapa Lesmana meninggalkan istrinya sendirian, sedangkan Lesmana kaget karena ternyata sang kakak gagal membawa kidang kencana yang dikejarnya. Lalu suara apa pula yang terdengar berteriak nyaring itu?

“Bagaimana dimas Lesmana, kok diajeng Sinta ditinggalkan sendirian?” tegur Rama cemas.

“Maaf kangmas, mbakyu Sinta yang memaksaku untuk segera menyusulmu. Aku sudah menjelaskan panjang lebar sesuai juklak dari kangmas, tapi Mbakyu Sinta malah menuduhku yang mboten-mboten saja. Ya sudahlah, aku menyusulmu.” Jawab Lesmana tak mau disalahkan. Ini memang bukan salaman (salah Lesmana), apa lagi Salawi (Salah Jokowi) dan Salahok (salah Ahok).

Keduanya bergegas ke pangkalan Dewi Sinta, tapi ternyata sudah kosong melompong. Jika ada tanda-tanda, hanyalah sandal wanita yang tercerai berai, satu di sana, satunya lagi di sono. Rama Wijaya terkesiap, memastikan telah terjadi hal-hal buruk atas istrinya. Bisa diculik sindikat perdagangan wanita, bisa dibawa gendruwo pemburu wanita cantik yang suka ngemba-emba (menyaru) sebagai suaminya.

Rama-Lesmana saling berpandangan, dan kemudian Lesmana menunduk, seakan merasa bersalah. Kenapa tadi ditinggalkan juga, sehingga terjadi hil-hil yang mustahal. Andaikan tadi bersikukuh tak menggubris permintaan Dewi Sinta, niscaya sang kakak ipar itu pasti masih ada. Sekarang dianya telah pergi, lalu siapa pula yang menculik atau membawa lari?

“Dimas, mari kita cari segera. Takut terjadi apa-apa pada istriku,” kata Rama dengan perasaan gusar.

“Mari kangmas, semoga saja tidak terjadi apa-apa atas Mbakyu Sinta.”

Kedua ksatria muda itu terus berjalan beriringan, sambil toleh kanan kiri, siapa tahu menemukan Dewi Sinta nyempil di suatu tempat. Tapi sampai berjam-jam mereka berjalan, tak juga menemukan apa yang dicari. Tenggorokan sudah terasa serak, karena bergantian panggil nama Dewi Sinta tanpa henti, “Sinta, Sinta, Sintoooooaaaa……!”

Tiba-tiba Rama dan Lesmana melihat seekor burung besar semacam garuda, nampak nyekukruk (lunglai) di bawah pohon. Kepalanya tidak lagi tegak, kedua sayapnya juga terkulai. Menduga burung raksasa tersebut yang memakan Dewi Sinta, Rama Wijaya langsung mementang busur, siap memanahnya.

“Jangan keburu nafsu anak muda. Klarifikasi dan tabayun dulu, jangan asal main panah. Taruh dulu busur panahmu, biar saya ngomong?” kata si burung raksasa yang ternyata mahir ngomong seperti manusia.

“Oke. Jadi sampeyan bukan yang memakan istriku Dewi Sinta?” tanya Rama.

“Ngawur saja, mana ada burung doyan orang? Saya mah makanannya enthung, belalang, kodok. Kalau ada mie pangsit juga mau.” Jawab si burung raksasa dengan suara bergetar dan lemah.

Burung raksasa itu ternyata bernama Peksi Jathayu. Dia mengaku baru saja bertempur melawan raja Dasamuka yang membawa perempuan cantik. Tak jelas siapa yang dicuri, tapi naluri amar makruf nahi munkarnya mengharuskan dia harus berbuat untuk membela kaum lemah, yang kata Gubernur Anies dari DKI, ini namanya keberpihakan.

Melihat ciri-ciri yang disebut Peksi Jathayu, Rama Wijaya yakin bahwa itu pasti Dewi Sinta istrinya. Tapi soal Dasamuka yang membawanya kabur, Rama Wijaya baru kali ini mendengarnya. Kalau Dasa Wisma sudah sering dengar, itu kegiatan ibu-ibu PKK berkaitan pemberantasan nyamuk  dan jumantik.

“Dasamuka itu raja dari mana?” Rama Wijaya mengejar dengan pertanyaan.

“Raja dari Ngaleng, dari ……Ngaleng!” jawab Peksi Jathayu tidak selesai, karena lansung ambruk dan wasalam.

Rama – Lesmana sangat kasihan pada Peksi Garuda yang telah mengorbankan nyawanya demi kebenaran sekaligus istri sendiri. Rama merasa berutang budi, sehingga jazad burung malang itu dikuburkan secara layak. Misalkan dekat dan ada untuk ruang penguburan satwa, pastilah dikuburkan di TPU Sandiego Hill.

Selesai penguburan Peksi Jatayu, kepala Rama dipenuhi tanda tanya, negeri Ngaleng itu berada di mana? Melintasi lautan atau tidak. Jika melintasi samodra, ah betapa jauhnya kini Dewi Sinta di negeri orang. Mendadak rasa rindunya semakin mekar dan berkecamuk, wajah Dewi Sinta selalu terbayang-bayang. Mendadak Rama Wijaya gandrung-gandrung urut lurung (kasmaran sepanjang jalan). Kasihan sungguh Rama Wijaya, sampai-sampai sebatang pohon dirangkul dan dielus-elus direken Dewi Sinta. (Tamat- Ki Guna Watoncarita)