RATU DADI PETRUK

Antasena-Gatutkaca heran, ada Petruk kok tanpa membawa petel dan badan kegemukan.

SUDAH berulangkali Pendhawa menuntut kembalinya negara Ngastina, tetapi Prabu Duryudana selalu mempertahankan dengan berbagai alasan. Yang menjadi biang keroknya sebetulnya Dewi Gendari, ibu dari seratus Kurawa. Dialah yang selalu memprovokatori agar mempertahankan negeri warisan Prabu Pandu yang juga sesepuh Pramuka tersebut. Kalau Prabu Destarata sih, sesungguhnya telah menyarankan agar dikembalikan saja, tapi tak pernah digubris istrinya. Setiap berdebat soal negeri Ngastina dengan Dewi Gendari, Prabu Destarata pasti kalah, sebab selalu mendapat ancaman maut: “Awas, nggak gua masakin lu….!”

Pandawa sendiri meskipun selalu dikadali Prabu Duryudana bersama para kroninya, masih juga sabar, tak mau membawa ke sidang PBB. Tapi sesungguhnya sikap politik sedemikian itu hanya dimiliki Prabu Puntadewa beserta para adik-adik. Untuk para generasi muda seperti Antasena, Gatutkaca, Abimanyu, sudah tak sabar lagi. Para putra Pandawa ini sudah ngebet ingin menghajar tokoh-tokoh Ngastina yang selalu mengganjal kembalinya negeri Gajahoya. Patih Sengkuni, Pandita Durna, Prabu Duryudana, kesemuanya telah masuk “daftar hitam” yang harus dieksekusi untuk tumbal kembalinya nagara Ngastina pada Pandawa.

“Dimas Antasena, sebelum merebut negara Ngastina, seyogyanya mohon restu kepada para pepunden kita. Nanti malah dipersalahkan lho….,” saran Gathutkaca.

“Alah, nggak perlu, kebanyakan  prosedur amat! Bapa Werkudara, Pakde Puntadewa dan paman Harjuna – Nakula – Sadewa, tahunya mateng bagehi saja.” jawab Antasena yang menjadi korlap (kordinator lapangan).

Secara diam-diam hari itu para putra Pandawa bermaksud menggelar demo tak berizin di Ngastina sekalian salat Jumat di Monas. Selain menyiapkan gulungan spanduk macam-macam, juga tersedia bom molotov. Ratusan kawula cilik di Ngamarta diajak sekalian, biar rame. Diberi amplop Rp 50.000,- perorang plus nasi bungkus, dinaikkan  truk sampah pinjam Dinas Kebersihan Pemprov DKI Jakarta. Antasena Cs sudah bertekad bulat: bila situasi mengijinkan, dampar Ngastina mau direbut. Prabu Duryudana, Patih Sengkuni, Pandita Durna, ditangkap dan diserahkan ke KPK. Sanksi hukumnya diusahakan kejam dan sadis, koruptor-koruptor kakap iku dihukum mati sebagaimana di RRC.

“Jangan ke KPK Dimas Antasena, nanti di SP3. Di sana sekarang baru musim penghentian kasus.” Saran Antarejo.

“Nggak papa. Nanti kalau KPK macem-macem, kita laporkan ke ICW saja, biar dibully sepanjang masa.” kata Abimanyu.

Dari para tersangka pejabat tinggi Ngastina, Patih Sengkuni, oleh Antasena Cs dijadikan target utama. Sebab wayang satu ini memang paling terkenal menjadi durmalaning bumi (penjahat dunia). Tindak korupsinya mengalahkan Nurhadi eks Sekretaris MA. Jika hanya mengandalkan gaji, mustakhil memiliki apartemen dan  mall Jenar Plaza. Bahkan yang mempelopori penjualan BUMN Ngastina itu sebetulnya juga Haryo Suman. Termasuk kaburnya politisi Harun Kesiku (kualat) yang jadi otaknya adalah juga Patih Sengkuni. Maka jika kekuasan Ngastina berhasil digulingkan, adik Dewi Gendari tersebut harus dijantur (digantung dengan kepala di bawah) paling duluan.

Hari itu Prabu Duryudana Cs tengah menggelar sidang selapanan terbatas bidang hankamnas (pertahanan keamanan nasional), sehubungan dengan penanganan banjir. Tetapi belum juga selesai, mendadak ada laporan bahwa putra-putra Pandhawa sagelar sapapan demo di depan Istana Gajahoya. Soal tuntutannya memang klasik, minta dikembalikannya negara Ngastina. Cuma yang paling mengerikan, kenapa yang memimpin demo Antasena, kasatriya ndhugal kewarisan (kurang ajar) putra Jodhipati.

“Wah, kacau kalau begini, anak prabu. Jika yang mimpin kraman Gatutkaca atau Abimanyu, masih bisa  diajak rundingan. Tapi kalau Antasena, wah, wah, nekadnya minta ampun. Sudahlah Dhi Dhi Cuni, saya mau ke toilet dulu…..!” Pendita Durna pamit dengan wajah ketakutan.

“Saya juga mau pipis….!” ujar Patih Sengkuni ikut-ikutan menyelinap cari aman.

“Lho, lho, kok pada kabur. Lalu gue gimana nih?” Prabu Duryudana ikutan panik.

Sesungguhnya kepamitan Durna – Sengkuni tersebut sekedar alasan untuk mencari selamat. Tapi baru sampai gapura Dana Pretapa, keburu ditangkap para putra Pendawa, lalu  digelandang dinaikkan ke truk. Target selanjutnya Antasena Cs hendak merangket Prabu Duryudana. Ternyata kecele,   dampar kraton ditemukan kosong. Malah di situ ketemu punakawan Petruk rupanya sudah datang duluan. Dia nampak sibuk copoti AC, dispenser dan menggulungi karpet, dinaikkan ke Colt, katanya mau disumbangkan ke korban banjir Cipinang Melayu.

Sitinggil Ngastina telah kosong melompong. Antasena – Gatutkaca masuk ke dalam gedong pusaka mau mengambil keris pusaka andalan kraton sebagaimana Kyai Kopek di keraton Yogyakarta, tapi malah hanya ketemu Dewi Gendari yang juga sudah …..kopek (kendor) dia punya payudara! Ketika melihat dampar kencana yang dulu sering diduduki Prabu Pandu, iseng-iseng Antasena mencoba duduk santai macam di Warung Tegal. Tiba-tiba langsung kena vertigo, terjungkal pingsan.

“Aduh, gak kuat gua. Kepala keliyengan, bumi seperti dibolak-balik….,” ujar Antasena setelah siuman.

“Alah, cuma belum sarapan tuh! Lihat nih gue, kesatria….,” potong Gatutkaca takabur.

Ternyata benar. Baru saja menaruhkan pantat, kontan perut mules macam Menkeu Sri Mulyani dengar janji Kartu Prakerja Capres Jokowi. Segera saja Gathutkaca kabur ke toilet, lantaran mendadak terkena diary (catatan harian, itu diare). Sekeluar dari toilet, kesatriya yang katanya otot kawat balung wesi kringet wedang kopi itu kini berubah bagaikan Baladewa ilang gapite, lemas tak berdaya, raut muka pucat pasi macam bule mencret.

Satu-satunya putra Pandawa yang mampu menduduki dampar hanya Abimanyu. Itu mengandung makna, entah dia sendiri atau anak keturunannya kelak, bakal ada yang menggantikan kedudukan raja Ngastina. Tapi siapa sesungguhnya yang menjadi “satria piningit” sekarang, yang tahu hanyalah Permadi SH paranormal eks politisi PDIP. Paling penting hari ini, melacak pelarian satriya candhala ing budi (bertabiat jahat) Prabu Duryudana satu-satunya yang belum berhasil ditangkap. Yang dicemaskan, bilamana  dia ikut bersembunyi di Singgapur, bergabung dengan para pengemplang dana BLBI.

Keberadaan Prabu Duryudana terus dilacak. Tiba di pintu tol Bekasi, Antasena Cs melihat razia kendaraan oleh Polantas. Bahkan Petruk beserta Colt yang mengangkut karpet dan AC kraton Ngastina tadi pagi, juga kena. Yang bikin kaget Antasena – Gatutkaca, mengapa Petruk kok tak mengenakan pethel Kyai Pulang Pergi seperti biasanya.  Segera saja kedua kesatriya ini mendekati.

“Petruk, pethel andalan kamu ke mana?” Antasena menginterogasi.

“Baru saya sekolahkan ke kantor Pegadaian, Gus.”

“Petruk kok kegemukan, bagaimana ceritanya?” Gatutkaca ikut-ikutan.

“Memang saya sedang malas berolahraga….,” Petruk masih mencoba berkelit.

Ini sungguh mencurigakan, ada Petruk kok berkulit bersih, keringatnya beraroma priyayi. Setelah digeledah paksa, wooo……ternyata KTP-nya atas nama Duryudana, pekerjaan: raja Ngastina. Ternyata sedang nyamar, biar lolos sweping (geledhah). Kontan petinggi Ngastina diseret dari mobil, dibuat “bancakan” Gatutkaca, Antasena, Antarejo beserta Setyaki yang datang belakangan. Meskipun Prabu Duryudana sudah ampun-ampun minta dikasih hidup, tetap saja dihajar habis-habisan. Untung saja terlihat oleh kehadiran Prabu Bathara Kresna. Yang tengah “bancakan” segera dihentikan.

“Jangan pada main hakim sendiri dong, itu pelanggaran HAM tau? Ini Sencaki si tua bangka kok ikutan juga….,” Prabu Kresna menegur adik iparnya.

“Ah, itung-itung olahraga kok Mas. Ketimbang futsal harus bayar…..!”

Akhirnya Prabu Duryudana dibebaskan, dikembalikan pada posisinya dulu. Adapun Patih Sengkuni dan Durna yang telah terlanjur merasakan dinginnya LP Cipinang beberapa  jam, juga dibebaskan. Kata Prabu Kresna, soal kembalinya negara Ngastina itu urusan para orangtua, tidak boleh nggege mangsa (mendahului kehendak dewa). Apa lagi telah ditentukan kahyangan, bahwa negara Gajahoya  akan kembali dengan didahului oleh perang Baratayuda Jayabinangun.  (Ki Guna Watoncarito)