Sukhoi SU-35 atau F-35?

3.364 views

TNI-AU diberitakan urung memperoleh satu skadron atau sebelas unit pesawat tempur multi peran Sukhoi SU-35 Super Flanker buatan Rusia yang semula sudah  dinegosiasikan antara ke dua belah pihak.

Entah mana yang benar alasannya. Ada yang menyebutkan, terjadi ganjalan terkait skema pembayarannya dan ada pula yang menyebutkan adanya  “tekanan” dari Amerika Serikat agar RI tidak membeli pesawat tempur eks-Rusia itu.

Sedangkan UU No. 16/2012 tentang Industri Pertahanan mempersyaratkan,  transaksi pembelian alutsista a.l. harus diupayakan dengan skema imbal dagang (dalam hal ini RI membayarnya dengan hasil produksi pertanian).

Terkait rencana pembelian sebelas unit SU-35 dengan nilai kontrak 1,14 milyar dollar AS (sekitar 15,5 triliun saat itu) , separuh dari pembayaran berupa imbal dagang produk pertanian seperti kopi, kelapa sawit dan tembakau.

Di pihak lain, AS memang ketat meminta mitra-mitra negaranya untuk tidak membeli alutsista buatan Rusia, rival utamanya dalam perlombaan persenjataan.

Turki, misalnya, gagal mendapatkan F-35 Super Lightning II dan  peluang memproduksi bersama, karena di saat bersamaan, membeli sistem pertahanan udara S-400 Rusia. AS khawatir,  rudal-rudal Rusia itu akan mengganggu atau tidak kompatibel dengan pengoperasian F-35.

SU-35 sendiri digadang-gadang oleh Rusia sebagai pesawat multi peran yang sudah diuji di wilayah konflik di Suriah, walau menurut catatan, hanya dioperasikan secara terbatas oleh pilot-pilot Rusia , belum pernah terlibat “duel udara” dengan pesawat lawan (AS atau Israel).

Harga per Unit

SU-35 yang dibandrol antara 45 sampai 67 juta dollar per unit (Rp 675 milyar sampai Rp1 triliun) tergantung konfigurasi alutsita dan kelengkapan lainnya, dikembangkan dan dimordenisasikan oleh Rusia pada 2008 guna menandingi F-15 Eagle dan F-16 Fighting Falcon AS.