Di Suriah, Turki Berhadapan dengan Rusia

4.515 views

PANDEMI virus corona (Covid-19) yang sudah menewaskan 10.000 orang dan menjangkiti lebih 244.000 orang di 167 negara (sampai 20/3) tidak menyurutkan perang Suriah yang berkecamuk sejak 2011.

Bahkan, konflik berdarah yang menewaskan sekitar 380.000 orang dan menciptakan 10,8 juta pengungsi (enam juta di dalam negeri dan 4,8 juta ke LN), pada pekan-pekan terakhir diwarnai pertempuran antara dua kekuatan militer raksasa dunia, Turki dan Rusia.

Rusia yang memiliki pangkalan AU di Khmeimim dan AL di Tartus, Suriah adalah sekutu utama rezim Suriah sejak di bawah Hafez al-Assad yang wafat dan digantikan anaknya, Bashar al-Assad sejak 2011, sementara Turki berada di kubu pemberontak Suriah.

Pertempuran bergeser ke kota Idlib, barat laut Suriah, benteng terakhir pemberontak Suriah sejak Desember lalu dan memuncak pasca  tewasnya 36 anggota pasukan Turki, kemudian dibalas Turki a.l. dengan  menjatuhkan dua pesawat Sukhoi SU-24 Suriah oleh pesawat F-16 miliknya (27/2).

Presiden Turki Tajjip Recep Erdogan mengingatkan Rusia agar tidak terlibat terlalu jauh dari perang yang sedang dilakukan Turki di Suriah.

“Anda boleh mendirikan pangkalan militer di Suriah, tapi harap menyingkir dari jalan kami dan biarkan kami berhadapan satu lawan satu dengan Suriah, “ kata Erdogan menyebutkan pembicaraannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin baru-baru ini.

Sebaliknya merespons sikap Turki itu, Menhan Rusia Dmitry Peskov juga mengingatkan balik agar Turki tidak mencoba-coba mengganggu mitranya, rezim Bashar al-Assad.

“Tidak ada masalah bagi Rusia, jika Turki menyerang teroris (NIIS), tetapi bakal tercipta skenario terburuk jika coba-coba menyerang pemerintah dan pasukan resmi Suriah, “ ujarnya.

Sementara Menhan Turki, Hulusi Akar seakan-akan sadar lawan  yang dihadapinya, dengan nada lebih lunak menyebutkan, Turki tidak ingin berperang melawan Rusia, yang dilakukan hanya merespons serangan pasukan rezim Suriah.