Menghina Ibunda Presiden

Presiden Jokowi mengantar jenasah Ibunda, Ny. Sudjiatmi Notomihardjo ke temat peristirahatan terakhir.

TANPA melihat statusnya, menghina kepada siapa saja tidak boleh, apa lagi pada seseorang yang sudah meninggal. Agama apapun melarang hal demikian. Tapi ketika ibunda Presiden Jokowi berpulang di Solo Rabu 25 Maret 2020 lalu, ada sekelompok netizen yang “lambe nggambleh” menghina almarhumah Ny. Sudjiatmi Notomihardjo. Tidak suka pada seseorang boleh saja, tapi jangan diumbar di jagad medsos yang tanpa sensor. Kini lihat akibatnya, sebagian dari mereka terkencing-kencing dicomot polisi, bahkan ada yang menggunakan koneksi untuk meloloskan diri dari jeratan hukum.

Semenjak ada medsos, Indonesia geger terus. Sedikit-sedikit dikomentari netizen gatal jari, sedikit-sedikit unggah berita hoaks. Pada media massa konvensional keluhan masyarakat bisa ditampung di Surat Pembaca. Di situ ada bagian redaksi yang menyensor bahasa dan  kontennya. Bila isinya mengganggu ketertiban umum atau menghina seseorang, diedit kembali atau sama sekali tidak dimuat. Itu untuk menjaga kredibilitas suratkabar itu sendiri, termasuk juga menjaga nama baik pihak yang terlibat dalam Surat Pembaca tersebut.

Tapi di media sosial sekarang ini, hanya modal jari yang habis dipakai ngupil lagi, dengan bahasa belepotan, seseorang bebas mempublikasikan apa yang jadi uneg-unegnya. Tanpa konprensi pers, tanpa kirim Surat Pembaca di suratkabar. Saking bebasnya, banyak pula berita hoaks diunggah, karena dia akan merasa bangga bila menjadi viral. Padahal sudah banyak yang masuk penjara gara-gara ujaran kebencian di medsos. Ada yang karier suami di TNI terhambat gara-gara istri asal jeplak di medsos, ada pilot yang dicopot, banyak pula PNS yang diberhentikan gara-gara main-main dengan medsos.

Pengguna medsos ini sebagian besar orang-orang yang tidak suka membaca, jangankan buku tebal, baca kertas bungkus teh saja tak pernah. Karenanya tak punya informasi pembanding dari berita yang diterimanya. Apa saja yang diterima di medsos, ditelan begitu saja, padahal makan obat saja pakai bantuan air teh atau pisang. Dan ketika apa yang ditulisnya di medsos jadi masalah, dia akan blingsatan kerepotan sendiri. Meski sudah menyesali perbuatannya, tapi tembok penjara pun membayang di mata.

Kampanye hitam dari Pilpres lima tahunan, membuat orang yang berwawasan sempit dan sumbu pendek lagi, mudah termakan kabar yang tidak benar. Misalnya tabloid “Obor Rakyat” karya Setyardi Budiono – Dermawan Sepriyosa, atau  buku abal-abal “Jokowi undercover” tulisan Bambang Tri. Penerbitan semacam itu telah banyak meracuni masyarakat yang berwawasan sempit. Bambang Tri misalnya, bermodal foto ajudan Aidid yang dari belakang mirip Jokowi, lalu diambil kesimpulan itu ayah Jokowi. Dan si penulis terus mengembangkan tulisan itu sesuai imajinasi alam pikirannya. Pengaruhnya luar biasa, karena jadi banyak yang benci Jokowi.

Celakanya, kebencian ke Jokowi pada akhirnya malah merembet ke keluarganya. Ketika ibunda Jokowi, Ny. Sudjiatmi Notomihardjo meninggal Rabu 25 Maret lalu, ada sekelompok netizen “lambe nggambleh” yang tega menghujat dan menghina ibu kandung Kepala Negara. Kata-katanya sungguh tidak pantas, padahal mereka  ada yang pakai jilbab segala. Mereka pasti tahu, dalam Islam dilarang menghina sesama umat Allah Swt.

Jaman Orde Baru, “lambe nggambleh” seperti para netizen sekarang, pasti sudah ditarik dari peredaran. Dipanggil pihak yang berwajib sambil bawa sikat gigi dan handuk kecil, habis itu tak boleh pulang. Tapi sekarang, tak semua penghina Kepala Negara ditelateni pihak kepolisian. Tapi semenjak pasal penghinaan presiden dihapus dari KUHP, mereka jadi ngelunjak. Presiden jadi ora kajen (tak dihormati) kata orang Jawa.

Presiden Jokowi boleh bilang, “Aku ra papa.” Tapi rakyat membela simbol negara. Maka ketika dilaporkan oleh seseorang ke polisi, jumlahnya lumayan juga, sampai 21 orang. Dari mereka ini sebagian sudah diambil, ada yang dari Bandung, ada pula yang dari Sawahlunto (Sumbar). Mereka ini orang-orang yang teracuni kampanye hitam saat Pilpres tempo hari. Yang paling lucu PP (54) sang penghina dari Sumbar. Galak dalam ujaran kebencian, begitu dicokok polisi langsung seperti ayam sayur bumbu kecap. Tanpa malu-malu minta temannya yang jadi Kapolres agar bisa mengintervensi kasusnya.

Ada suka, ada benci pada seseorang, itu hak semua anak bangsa. Tapi ketika tidak suka pada seseorang yang sudah meninggal, apa lagi ibunda Presiden, sebaiknya disimpan di hati saja, jangan malah diumbar di medsos. Tradisi bangsa kita setiap mendengar kabar orang meninggal, justru mengenang segala kebaikannya. Ingat pada agama anutanmu, karena tak ada agama yang mengajarkan ujaran kebencian pada umat pemeluknya. (Cantrik Metaram)