Amil dan Ujian Kesabaran

Nana Sudiana, Sekjend FOZ dan Direktur IZI. (Dok. Pri)

Oleh : Nana Sudiana (Sekjend FOZ & Direksi IZI)

Hari-hari ini hari tak mudah bagi para amil zakat. Selain ada kekhawatiran akan adanya wabah Covid-19, juga terbatasnya aktivitas amil untuk membantu sesama. Ada protokol social distancing, bahkan WHO menaikan levelnya hingga physical distancing yang harus dipatuhi para amil. Bagi para amil, tentu saja hikmah besarnya adalah mereka akan lebih banyak berada di rumah masing-masing. Yang selama ini terbatas waktunya untuk berkumpul dengan keluarga, begitu era pandemi, bahkan para amil hampir 24 jam ada di rumah bersama keluarga mereka.

Orang barat sana bilang selalu ada blessing in disguise di tengah sebuah musibah. Dan berkah tersembunyi dari pandemi Covid-19 bagi amil adalah, ia jadi punya banyak waktu untuk mendidik keluarganya. Segala puji hanya bagi Allah yang telah melimpahkan ujian ini dan mengubahnya menjadi sarana keberkahan. Berkah karena semua anggota keluarga bisa bersama-sama di rumah dan apalagi semua dalam kondisi sehat tak kurang sesuatupun.

Sesungguhnya kebersamaan adalah salah satu kunci keberhasilan. Dalam kebersamaan nilai-nilai edukasi seperti kesetiaan, kejujuran, terbuka, saling memahami, bertoleransi, serta mendahulukan dan peduli pada orang lain bisa diajarkan. Dan kebersamaan ini mahal harganya, karena bagi amil, bersama keluarga terus-menerus selama berhari-hari jarang sekali terjadi. Selalu ada tuntutan tugas dari lembaganya untuk entah kemana tugas harus bergerak dan diselesaikan. DNA amil adalah aktivis. Tak puas dudk manis menunggu sesuatu terjadi.

Kebersamaan para amil ditengah keluarganya memiliki manfaat besar bagi masa depan mental anak-anaknya. Dengan bersama-masa dalam menikmati “’Work From Home” atau “Study From Home” akan saling tahu kelemahan dan kelebihan masing-masing anggota keluarga. Kebersamaan akan juga saling menguatkan. Dengan limpahan kasih sayang dan cinta dalam sebuah keluarga, akan membantu menumbuhkan rasa nyaman dan tenang. Dan bila ini yang terjadi, seberat apapun kehidupan yang dijalani akan terasa mudah.

Alam mengajarkan pada kita bahwa sebuah kebersamaan memiliki energi yang luar biasa. Sungguh, betapa kita semua tentu telah tahu bahwa betapa Allah sudah menunjukan hal ini dalam kehidupan keseharian kita. Dalam hidup, kita tahu bila sesuatu yang tampak kecil namun karena bergerak bersama-sama hasilnya bisa sangat berbeda. Burung-burung di angkasa serta jutaan ikan yang sama yang ada di dalam lautan ketika mereka bergerak bersama, mereka akan mendapatkan kebaikan dari berkumpul dan bergabungnya mereka. Dengan bergerak bersama-sama pula hasil akhir yang ada menjadi berbeda dengan saat mereka sendiri-sendiri.

Ujian Kesabaran

Kebersamaan sendiri sejatinya bagi amil adalah ujian. Ujian atas nilai-nilai, pemahaman dan sudut pandang dalam melihat masalah yang ada di hadapan. Hari-hari pertama bersama-sama di rumah yang luasnya tak seberapa terasa indah pada awalnya. Namun semakin bertambah hari, situasi ini tentu tak sama. Selain konsumsi yang bertambah akibat sepanjang waktu tetap di rumah dan perlu makan, suasana hati pun bisa berubah. Anak-anak yang biasanya aktif bermain dan bersekolah, dengan tiba-tiba harus di rumah dan tak bisa kemana-mana tentu saja bukan hal mudah. Rasa bosan dengan mudah datang, apalagi ditengah tuas-tugas sekolah dengan sistem daring yang juga tak sedikit jumlahnya. Para guru masih belum terbiasa menghadapi situasi krisis semacam ini. Banyak dari mereka terlalu bersemangat memberikan tugas sekolah, seakan situasinya normal dan hanya urusan pindah tempat semata, yang tadinya ngumpul dalam kelas, lantas bergesar menjadi lewat gadget atau laptop.

Kebersamaan adalah ujian. Bagi orang tua juga. Ia harus berlatih untuk bisa lebih sabar dan tahan banting di tengah gempuran-gempuran kebosanan dan ketidakpastian. Situasi pandemi Covid-19 ini tak ada yang bisa memastikan akan sampai kapan, sehingga hanya ketahanan dan kesabaran sekeras baja yang mampu menahan-nya dari kemarahan atas tak jelasnya situasi saat ini. Kebersamaan amil di tengah keluarganya tak akan memutus hubungan baik dia dengan kawan-kawan amilnya di luar sana. Dengan sejumlah tools dan perangkat yang ada, seorang amil akan tetap terhubung lewat beragam platform seperti : Whatsaapp, intagram, twitter, facebok atau lainnya.

Karena kebersamaan ini juga penting bagi amil, maka ia akan tetap mempertahankan diri untuk tetap terhubung satu sama lain. Amil sudah kadung berada dalam lingkaran gerakan zakat, sehingga keberadaan dia semakin hari semakin terikat kuat. Ia juga telah terpatri dalam kesatuan gagasan, ide dan cita-cita bersama. Mereka memang berada di beragam lembaga, namun ide dan keinginan mereka mudah sekali untuk diprovokasi dalam bingkai sebuah kolaborasi.

Kolaborasi amil tak melulu urusan gerakan zakat yang besar dan hebat. Kadang dalam urusan kecil dan remeh-temeh pun amil tetap memerlukan kebersamaan ini. Dalam sejumlah kesempatan, para amil berkumpul tak selalu untuk aktivitas serius, mereka hadir bersama hanya untuk disatukan aroma kopi di kafe-kafe yang ada. Para amil bak punya dua keluarga. Keluarga inti dan keluarga kedua yang isinya kadang kongkow-kongkow saja agendanya. Walau terlihat sederhana, kebersamaan ini bila kuat terjalin maka hasilnya akan menjadi berbeda. Para amil, siapapun dia, memerlukan kebaikan dari yang lainnya. Bayangkan bila yang akan berbuat baik ini besar jumlahnya dan dilakukan bersama-sama. Kita semua tahu, bergerak bersama dalam aktivitas kebaikan akan membuat orang lain tersenyum dan bangga. Kebersamaan adalah fitrah, apalagi bagi mereka yang meyakini akan datangnya kemenangan dan kebaikan di masa yang akan datang.

“Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Rabbmu dan perbuatlah kebajikan supaya kamu mendapat kemenangan”. (QS. Al-Hajj (22): 77)

Kebersamaan pula, akan menghadirkan kebaikan. Sekecil apapun itu. Dalam keseharian kita, jangan pernah menyepelekan amalan-amalan yang seolah kecil. Kata Syaikh Ali Musthafa Thonthowi : “Lakukanlah kebaikan walau engkau menganggapnya sepele, karena sesungguhnya engkau tidak tau kebaikan mana yang akan memasukkanmu kedalam surga”. Masih kata beliau : “Kebaikan-kebaikan kecil yang meletihkan akan hilang keletihannya dan digantikan Allah dengan ketaatan. Dan kenikmatan melakukan maksiat pun akan hilang dari dalam dirinya”.

Kini, di tengah-tengah situasi harus ada di rumah dan menjalani WFH/SFH, para amil harus tetap sabar. Terus berharap dan berdoa pandemi Covid-19 ini segera berakhir dan bisa kembali ke aktivitas kebaikan-kebaikan atau amal-amal sebagai amil di dunia zakat Indonesia. Mari kita mengangkat tangan setinggi-tingginya, menghambakan diri dan merendahkannya seraya memohon pada Allah agar situasi ini kembali normal.

Dibalik kerapuhan kita yang seolah terkepung di rumah, tetaplah memelihara jiwa kepedulian dengan terus mencari amalan-amalan sebagai amil untuk tetap berbagi dan membantu sesama. Tugas-tugas keamilan masih terus kita tunaikan walau dengan tim dan teknis yang terbatas. Jangan lupa juga, adukan semua masalah yang kita hadapi hari ini kepada Allah dan jangan pernah lelah. Teruslah istiqomah dalam amal kebaikan sebagai amil dalam membantu urusan umat. Kita juga jangan menyepelekan amal-amal yang kecil. Amal-amal kecil yang dilakukan terus menerus sesungguhnya bisa jadi pahalanya melampaui pahala umroh. Kisah seorang wanita yang masuk syurga disebabkan memberi minum seekor anjing menunjukan betapa amal yang terlihat kecil dan sederhana bisa saja berpahala besar di sisi Allah.

Amal-amal kebaikan kita sebagai amil zakat, terutama yang dilakuan untuk membantu dan menolong banyak orang semoga akan menjadikan kita sebagai manusia yang dicintai Allah SWT. Dalam sebuah hadits dikatakan : “ Manusia yang paling dicintai Allah taala adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. Dan perbuatan yang paling dicintai Allah ta’ala adalah rasa bahagia yang engkau masukkan dalam hati seorang muslim.”

Di malam-malam yang sepi, angkatlah tanganmu dan selalu-lah meminta kepada Allah agar terus bisa menolong orang lain dan membuat mereka tersenyum bahagia. Membuat orang lain tersenyum berpahala besar di sisi Allah. Apalagi membantu dan menolong urusan-urusan orang lain.
Semoga.

Semarang menuju rembang petang, Selasa, 31 Maret 2020