DUNIA TERKARANTINA VIRUS CORONA (BAGIAN 4.1.) : Latihan Betanggung Jawab Atas Diri-Sendiri

195 views

Bismillahir-Rahmanir-Rahim = Dengan Asma Allah Yang Maha Pengasih – Maha Penyayang

Pengantar

Di balik kelebihan dan keunggulan manusia dari makhluk-makhluk Allah yang lain, ada pula kekurangan/kelemahannya yang terkadang untuk tidak mengatakan sering apalagi selalu memiliki dampak negatif. Baik untuk dirinya sendiri maupun bagi orang atau makhluk-makhluk lain. Terutama dihubungkan dengan kerusakan alam, lingkungan dan terutama untuk manusia sendiri. Maha Benar Allah dalam kalam Nya yang menyatakan bahwasa kerusakan di muka bumi ini — di daratan maupun lautan — diakibatkan ulah manusia sebagai pemegang otoritas kekhalifahan.

Permasalahannya kini: apakah virus Corona yang tengah “mengkarantinakan” kita semua dalam dua – tiga pekan ini juga akibat ulah manusia ? Jawabannya bisa menimbulkan diskusi tersendiri. Yang jelas, di balik mudharatnya yang demikian dahsyat, Corona tetap (akan) memberikan pelajaran berharga (‘ibrah pinjam istilah Al-Qur’an) dari banyak aspek: teologi, adat-kebiasaan dan budaya, hingga persoalan ekonomi, hukum, politik dan lainnya. Minimal bagi yang masih mau melakukan “tafaqquh fi-al-din” (pendalaman terhadap agama), apalagi dihubungkan dengan kerangka berlatih/melatih diri guna “menghadapi” goncangan seluruh benda langit maupun bumi di Hari Akhir yang sekuan lipat lebih dahsyat lagi.

Pijakan Ayat
قُلۡ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ أَبۡغِي رَبّٗا وَهُوَ رَبُّ كُلِّ شَيۡءٖۚ وَلَا تَكۡسِبُ كُلُّ نَفۡسٍ إِلَّا عَلَيۡهَاۚ وَلَا تَزِرُ وَازِرَةٞ وِزۡرَ أُخۡرَىٰۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّكُم مَّرۡجِعُكُمۡ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ

Katakan (ya Muhammad): “Apakah aku akan mencari Tuhan selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu ? Dan tidaklah seorang-pun (yang) membuat dosa, melainkan (kemudharatannya akan) kembali kepada dirinya sendiri; dan seseorang yang berdosa tidak akan (bisa) memikul dosa orang lain. Kemudian kepada Rabb kamulah (hai manusia) kamu akan dikembalikan, dan akan diberitakan-Nya (kelak) kepada kamu apa saja yang telah kamu perselisihkan (dahulu) ?” (Al-An’am (6): 164).

Pembahasan
Sebagai orang awam dalam bidang pervirusan, penulis tidak tahu apakah sebelum “makhluk halus” bernama Corona ini “memangsa” sejumlah penduduk Wuhan di China sudah ada yang memprakirakan bahwa pada medio Desember 2019 akan terjadi pandemic Corona yang kemudian menular/menyebar ke mana-mana di seluruh dunia ? Yang jelas, sejak beberapa pekan terakhir ini kita jarang mendengar pemilahan orang/negara ke dalam kelompok negara/orang kaya/maju dengan yang menengah-berkembang dan/atau bawah-terbelakang seperti yang kerap dibincang pada hampir setiap waktu sebelum “terkarantina Corona.”

Dilihat dari sudut pandang – dan terutama rasa ketakutan — kepada virus Corona, nyaris tidak ada lagi perbedaan dan perdebatan berarti antara pejabat dan rakyat, antara si kaya dan si miskin, antara si kuat dan si lemah, antara yang terpelajar dan yang tidak terpelajar, antara “penjahat” dan penaat, antara yang saleh dan yang “durhaka”; semua atau kebanyakannya tengah “terkarantina oleh Corona” dengan perasaan campur aduk antara harap dan cemas, antara percaya diri dan kurang percaya diri, antara berdiam diri dan/atau bersusah hati. Bahkan, tidak sedikit orang yang saat-saat sekarang ini merasa “digelayuti” beban terberat oleh bayang-bayang amaliah-prilaku dan/atau tindakannya masing-masing atau sendiri-sendiri di hari-hari sebelum Corona menghampiri”.

Begitu kata Al-Qur’an, sekurang-kurangnya dalam surat Al-An’am (6): 164, Al-Isra’ (17): 15; Fathir/Al-Mala’ikah (35): 18, Al-Zumar (39): 7, dan Al-Najm (53): 38 yang di dalamnya terdapat kalimat: “wa-la-taziru waziratun wizra ukhra = dan seorang (yang) membuat dosa, tidak akan (bisa) memikul dosa orang lain.” Maksudnya: “tidak akan (mungkin) ada seseorang yang bisa menanggung dosa orang lain, sama tidak mungkinnya dengan seseorang yang akan mengambil alih kesalahan/dosa orang lain” (Muhammmmad Ali al-Shabuni dalam “Shafwah al-Tafasir,” jil. 1, hlm. 432). Sementara menurut Muhammad Mahmud Hijazi, dalam “Al-Tafsir Al-Wadhih” (juz 8, lm. 690), kata wa-zirah (al-wizr) artinya beban/tanggungan yang sangat berat (al-haml al-tsaqil), dan yang dimaksud dengan wazirah (beban berat) dalam ayat ini adalah jiwa (seseorang, siapapun dia) yang penuh dosa dan kesalahan (al-nafs al-‘atsimah wa-al-mudznibah).

Dihubungkan dengan pandemic Corona yang sedang “mengarantina dunia,” meskipun rerata orang – lepas dari kategori keimanan dan/atau kesalehannya berada pada tingkat mana (?) bawah-rendah, menengah-sedang, atau maju/tingginya yang jelas tengah berada (merasa) dalam kekawatiran, was-was, gamang, galau, atau bahkan merasa ketakutan berlebih dengan Corona; sudah tentu lebih merasa ketakutan lagi bagi orang-orang yang sebelum ada kasus virus Corona, ini selalu bisa apalagi terbiasa menjalani hidup dan kehidupannya dengan semau atau sekehendak “hawa-nafsunya.”

Pinjam istlah Al-Qur’an (Q.S. Al-Furqan (25): 43), menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhan = man ittakhadza ilahahu hawahu.” Siapakah orang itu ? Kita sama sekali tidak boleh mengarahkan apalagi dengan sengaja menuduhkannya kepada seseorang atau tertentu, baik itu umat/rakyat biasa, maupun apalagi kepada pemimpin umat beragama apapun dan/atau pemimpin rakyat negara di manapun. Yang pasti, masing-masing diri kita sedang “belajar” memiliki tanggung-jawab individu di samping tanggung jawab bersama, atau kewajiban fardhu ain dan fardhu kifayah pinjam istilah agama.