Selalu Bersama Tuhan

Sehabis salat 5 waktu sebaiknya berdzikir.

Zikir dan wirid adalah mengucapkan (reciting) secara berulang-ulang sebagai sarana untuk mengingat Tuhan. Ada yang berpendapat zikir atau wirid di dalam hati (batin) dan atau boleh sambil berguman lebih baik daripada dibaca keras-keras. Isi zikir dan wirid adalah puji-pujian persembahan kepada  keaguangan Tuhan, sekaligus doa. Demikian pula kidung.

Di agama Hindu dikenal ada mantra dan mazmur di agama Kristen. Tujuan semuanya adalah agar kita selalu ingat kepada Tuhan. Orang Jawa bilang eling (sadar, terjaga, waspada) atas kehadiran Tuhan di sembarang tempat dan waktu, karena Tuhan tidak pernah mengantuk dan tidur.

Bagi kaum pencari hakikat, salat (sembahyang)  yang terbaik adalah salat daim, yakni salat sepanjang waktu, di sembarang tempat dan sedang melalukan apa saja. Apa yang dipikirkan, dikatakan, dan dikerjakan diniatkan sebagai ibadah, menyembahh Tuhan dalam pengawasan, penjagaan, penyelenggaraan dan pemeliharaan Allah.

Apa manfaat Suluk Kidung Kawedar di era modern, teknologi digital dan medsos (media sosial) yang serbainstan kini? Tentu ada dan bahkan banyak, di antaranya memperluas wawasan pemikiran, mengetahui sejarah bangsa yang kaya, mempelajari strategi penyebaran ilmu secara damai dengan pendekatan budaya (kearifan) lokal dengan khazanah tak terpanai yang perlu dilestarikan dan dapat “dijual” sebagai objek wisata spiritual.

Hal yang paling pokok, kidung itu menawarkan keselamatan sebagai sumber kebahagiaan dan kedamaian batin (peace of mind). Pengalaman batin merasa bersatu dengan Tuhan, bagi yang pernah mencicipinya, sungguh sangat menggairahkan, membahagiakan, dan mendamaikan, tiada bandingannya dengan kenikmatan duniawi.

Rabindranath Tagore dalam salah satu puisinya melukiskan dengan indah kemanunggalan setiap saat dengan Tuhan sebagai berikut:

They who are sitting near me, do not know that You are nearer than they are,

They who are speaking with me, do not know that my heart is full with Your unspoken words,

They who are crowding in my path, do not know that I am walking only with You,

And they who love me, their loves bring you into my heart.

 

Terjemahan bebasnya:

Mereka yang duduk di dekat saya tidak tahu, bahwa Engkau lebih dekat daripada mereka,

Mereka yang berbicara denganku tidak tahu, bahwa hatiku penuh dengan kata-kata-Mu yang tak terucapkan,

 Mereka yang berjubel di jalanku tidak tahu, bahwa aku berjalan sendirian bersama Engkau,

Dan, mereka yang mencintaiku, cinta mereka membawa-Mu ke dalam hatiku.

 Yang dimaksud You atau Engkau di sini adalah Tuhan. Tentu selalu mengingat Tuhan membuat seseorang selamat, terjaga dari perbuatan tercela atau maksiat, seperti korupsi.

Selalu eling memang penting. Tapi, tidak berarti salat wajib lima waktu tidak perlu atau boleh ditinggalkan. Itu tetap perlu, bahkan harus. Kitab piwulang (ajaran) Wedhatama sendiri menganjurkan agar syariat (terutama salat wajib, yang disebut sembah raga) harus tetap dijalani sebagai tangga pertama, sebelum tarekat (sembah cipta/kalbu) dan hakikat (sembah jiwa) menuju makrifat (sembah rasa). Nabi Muhammad saw., sang sufi agung, tetap menjalankan syariat.

Contoh konkrit dari manusia biasa, yang terpilih dan masih hidup kini dan dapat dijadikan mursyid (guru pembimbing) dalam belajar tasawuf adalah Prof Kiai Ali Yafie yang terkenal dengan motto hidupnya BSM (bersih, sederhana, dan mengabdi). Mas  Bambang Wiwoho pernah menuliskan itu dalam bukunya “Bertasawuf di Zaman Edan”.

Rumi yang dikenal sebagai mistikus Islam paling top di dunia saja, sebagai penganjur jalan cinta, pernah dikutip dengan mengatakan, “Saya cuma debu di jalan Muhammad.” Kanjeng Nabi Muhammad saw diyakini para pengikutnya sebagai manusia terpilih, paling mulia sedunia, yang pernah mencapai puncak makrifat tertinggi melalui peristiwa spiritual paling agung, Isra Mikraj.

*) Disadur dari Buku Bedah Diri, Parni Hadi.