S.O.S!, Dokter dan Tenaga Kesehatan Minim

Minimnya jumlah dokter dan tenaga medis lain serta kapasitas RS mencemaskan jika terjadi outbreak Covid-19 di bulan-bulan mendatang. Sebanyak 25 dokter dan puluhan tenaga kesehatan dilaporkan tewas akibat minimnya perlindungan karena terpapar saat menangani pasien.

MINIMNYA  jumlah dokter dan tenaga medis serta keterbatasan kapasitas rumah sakit, apalagi di luar Pulau Jawa, menjadi titik rawan jika  outbreak atau lonjakan pandemi Covid-19 pada bulan-bulan depan tak terelakkan.

Pemerintah sedang gencar melancarkan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) termasuk social distancing bagi warga untuk tinggal di rumah dan larangan mudik dan rapid test, dibarengi pemberian Jaminan Pengaman Sosial (JPS) berupa bantuan tunai dan sembako bagi jutaan rakyat miskin dan rentan miskin.

Sejumlah pakar epidemiologi dan kesehatan mengingatkan, Jika program distancing dan rapid test tidak efektif atau gagal menahan laju penyebaran Covid-19, korban terinfeksi bisa mencapai puluhan bahkan ratusan ribu orang.

Jika skenario terburuk itu menjadi kenyataan, jelas para dokter dan tenaga medis, juga rumah-rumah sakit bakal kewalahan menangani pasien Covid-19.

“Sistem RS kita tidak akan mampu menangani pasien jika kita gagal menahan laju penyebaran Covid-19, “ kata Kepala Gugus Tugas Covid-19 Doni Monardo mengingatkan. Sampai (21/4) pandemi Covid-19  sudah menewaskan sekitar 38.000 orang dan menjangkiti 2,25 juta orang di 210 negara.

Di Indonesia, jumlah korban tewas tercatat 616 orang tewas, 5.677 dirawat , relatif masih sedikit, tetapi karena baru sekitar  49.000 orang yang diambil specimennya atau kurang dari 0,0002 persen dari 267 juta penduduk. Bertambah banyak jumlah penduduk yang diambil specimennya, angka korban terpapar atau meninggal juga dikhawatirkan jauh lebih besar lagi.

Keterbatasan jumlah dokter dan tenaga medis tampak dari sampel data yang dihimpun Kompas (21/4) bersumber dari Depkes (2019) dan WHO (2017).

Ironisnya, di tengah situasi gawat saat ini, sudah 25 dokter dan puluhan petugas kesehatan meninggal, diduga akibat Covid-19 akibat minimnya alat perlindungan diri (APD) yang mereka kenakan saat menangani pasien.