Corona Mengubah Bahasa

Pemakaman para korban Corona yang meninggal. Tapi dalam bahasa wartawan media online, mereka disebut wafat. Bukan main!

COVID-19 memang penyakit luar biasa. Dia tak hanya merusak ekonomi dunia, tapi juga bisa mengintervensi hukum, mengubah aturan agama, budaya dan bahasa. Dan apapun masalahnya, sekarang sah-sah saja orang mengkambing-hitamkan Corona. Semua orang akan memahami dan memaklumi. Edan nggak, orang biasa meninggal bisa disebut wafat gara-gara Corona. Bahkan istilah mudik dan pulang kampung jadi beda makna gara-gara Corona.

Sudah lebih dari 3 Jumat sebagian umat Islam Indonesia tidak menjalankan salat Jumat, tapi itu tak ada yang menganggap kafir, karena alasan virus Covid-19. Di bulan Ramadan 1441 H ini banyak mesjid dan mushola tak menggelar salat tarawih, juga karena bersandar pada pasal Covid-19 yang sudah “dilegalisir” MUI dan Kemenag.

Menkumham Yasona Laolly telah membebaskan 30.000 napi juga demi menghindari Covid-19 menyebar sampai ke LP-LP. Tapi kini Pak Menteri juga terkena Pusing-20, gara-gara sebagian dari mereka setelah memperoleh asimilasi di luaran kembali berulah, berbuat kriminal berupa pencurian dan curanmor. “Saya serukan kepada semua Kanwil Kemenkumham, napi yang memperoleh asimilasi berulah lagi, segera kandangi.” Kata Pak Menteri. Untung beliaunya tak minta napi eks asimilasi itu  diisolasi pakai lakban di sekujur tubuhnya.

Tapi ya mau bagaimana lagi, meski dirinya sudah bebas, tapi perut kan tak bebas dari rasa lapar. Di LP, makan masih ditanggung negara, di luar harus mencari sendiri. Padahal yang namanya eks napi cari kerja susah, apa lagi di musim Corona. Cari kerja kasar juga tidak mudah karena aktivitas ekonomi sangat terbatas. Jadi tukang parkir saja, kini jarang mobil parkir gara-gara terkena PSBB.

Gara-gara Corona pula, bahasa pun bisa diintervensi. Pakai narasi BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana), maka Presiden Jokowi melarang rakyatnya mudik dan pulang kampung, khususnya menjelang Lebaran 1441 H. Dalam acara Mata Najwa, Presiden Jokowi mengatakan, “Rakyat dilarang mudik maupun pulang kampung untuk menghindari penyebaran Covid-19.” Rakyat dan Najwa Shihab pemandu acara terbengong-bengong, bukankah mudik dan pulang kampung itu satu makna?

Tapi dalam bahasa BNPB memang beda. Katanya, mudik itu kembali ke daerah asalnya hanya sebentar. Sedangkan pulang kampung adalah: orang yang kembali ke daerah asalnya untuk selamanya. Lalu bagaimana petugas membedakan mereka? Ini dibutuhkan kejelian petugas dalam memaknai kata-kata itu berdasarkan logika sederhana. Kalau orang mudik hanya bawa koper seperlunya, sedangkan pulang kampung almari dan kasur juga dibawa serta.

Tak kalah aneh sekaligus menyedihkan, gara-gara Corona juga, kosa kata “wafat” kini turun derajat. Dulu hanya dipakai untuk raja dan presiden saat tutup usia, kini korban Corona pun disebut wafat. Terasa janggal memang, tapi jika terus dibiarkan lama-lama jadi biasa dan dianggap benar saja.

Siapapun yang pernah duduk di bangku SD dan SMP, pasti ingat ketika Pak Guru menerangkan bahwa kosa kata “wafat” itu hanya digunakan untuk raja, presiden, ketika meninggal. Maka ketika Presiden Sukarno tutup usia 21 Juni 1970, koran-koran membuat judul: Bung Karno Wafat. Begitu juga ketika raja Yogyakarta Sultan HB IX meninggal 2 Oktober 1988, koran juga serempak bikin judul: Sultan HB IX Wafat di Washington DC.

Tapi di era gombalisasi yang full milenial ini, ketika bocah obesitas di Karawang meninggal, ada media online bikin judul: Satia Putra bocah obesitas wafat. Begitu juga ketika mantan bintang film Ade Irawan meninggal, juga ada media online menulis: Ade Irawan wafat.

Dan di musim Corona sekarang, media online sering menyebut wafat untuk para korban Corona. Jangankan media online, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan pun menyebut wafat ketika korban Corona meninggal. Gara-gara Corona, kosa kata wafat jadi turun derajat, dulu hanya dipakai untuk presiden dan raja, sekarang rakyat jelata pun boleh menggunakan.

Media online sekarang memang  ditangani oleh para wartawan muda, termasuk juga para redakturnya. Saat sekolah di SD dan SMP dulu, mungkin ketika guru Bahasa Indonesia membahas perbedaan wafat dan meninggal, calon redaktur dan jurnalis itu tidak masuk. Padahal pers itu guru bahasanya masyarakat. Jika gurunya saja rusak bahasanya, maka bahasa masyarakat juga ikut rusak karenanya. (Cantrik Metaram)