ASWATAMA GANDRUNG (2)

Pendita Durna tertawa melihat bagaimana Patih Udawa gandrung. Padahal itu sebenarnya Aswatama putra sendiri.

BETARI Durga geleng-geleng kepala. Kawula ngercapada sudah kadung salah kaprah menilai dirinya. Mentang-mentang copotan dewa di kahyangan, dianggapnya dia penguasa yang mampu mengatasi masalah tanpa masalah. Padahal soal begituan kan monopoli kantor Pegadaian. Jika dipikir secara jernih dan mengacu pada data, siapa pun yang dibantu Bethari Durga justu gagal total di ujung cerita.

Kini Aswatama hadir, ingin dimunculkan sebagai “kuda hitam”. Jika dilihat dari sejarahnya sih, sebetulnya tidaklah susah-susat amat, karena ibu dia sendiri sebetulnya seekor kuda, penjelmaan Dewi Wilutama yang telah terkena kutuk dewa. Bedanya adalah, Dewi Wilutama kuda yang bisa terbang, sehingga dijadikan merk pabrik cat. Sedangkan Aswatama nanti, karena tidak bisa terbang paling-paling-paling jadi kuda hitam yang dijadikan merk pabrik residu, yakni aspal encer untuk anti rayap.

“Maksud saya kudu hitam dalam arti pemenang, Eyang Bethari. Bukan kuda hitam dalam arti sebenarnya.” Aswatama mencoba protes.

“O, begitu. Ulun jadi gagal paham nih.” Jawab Betari Durga terpusi-pusi.

Demikianlah, Aswatama dibawa masuk ke sebuah ruangan khusus nan gelap, mirip ruang karantina pemudik yang bandel di musim PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Saat keluar setengah jam kemudian, dia sudah berubah wujud menjadi Patih Udawa dari Dwarawati. Cuma Udawa KW-2 ini lebih kurus karena di masa kecilnya dia memang kurang gizi.

Apa yang terjadi di ruang gelap tersebut, semuanya serba gelap. Sesuai dengan stigma Bethari Durga sebagai tokoh markus sekelas eks Sekretaris MA Nurhadi, bisa saja di dalam sana telah terjadi pembagian “kardus”. Isinya berupa uang berjuta-juta, bukannya sekedar Sembako senilai Rp 149.500 sebagaimana BLT warga miskin dari Pemprov DKI Jakarta.

“Sudah, sana pulang. Sukseslah kamu kawin sama Antiwati,” doa Bethari Durga.

“Terima kasih, Eyang.” Kata Aswatama, sebetulnya dia mau cium tangan Bethari Durga, tapi karena musim physical distancing terpaksa jabatan tangan ala orang PKS saja.

Pas tiba di gapura pintu keluar Pasetran Gandamayit, Patih Udawa KW-2 berpapasan dengan ayahnya, Pendita Durna yang rupanya juga hendak sowan Bethari Durga. Keduanya sama-sama kaget. Pendita Durna kaget karena melihat Patih Udawa yang calon jadi masih kasak-kusuk cari dukungan. Sedangkan Udawa KW-2 kaget karena ayahnya ternyata serius benar hendak mempersunting Dewi Drupadi calon janda dari Ngamarta.

Untung saja Udawa KW-2 mampu menahan diri. Dia tidak sampai protes spontan pada sang ayah, karena Pendita Durna sendiri tidak tahu bahwa Patih Udawa tersebut sebetulnya putra sendiri, Aswatama. Cuma yang kaget tapi dipendam di dalam hati justru Bethari Durga, kok bisa bapak dan anak ketemu bareng di Pasetran Gandamayit. Untung saja ini lokasi terhormat, bukan kompleks WTS.

“Eyang Bethari, hamba mohon dukungan karena bermaksud melamar Dewi Drupadi, mumpung dia sedang menjanda.” Ujar Pendita Durna sambil menyembah.

“Kamu kan sudah tua, kok masih mikir begituan sih? Memangnya kamu masih rosa-rosa macam Mbah Marijan? Puntadewa kan baru jadi Bang Toyib saja, nanti 3 kali lebaran pasti pulang kampung dia.” Jawab Bethari Durga mematahkan semangat Pendita Durna.

“Pulang kampung apa mudik, Pukulun?”

“Haiyahhh….., ulun nggak mau ada dikotomi antara mudik dan pulang kampung. Ini Pasetran Gandamayit, bukan Indonesia.” jawab Bethari Durga tegas.

Seperti Aswatama sebelumnya, kemudian Pendita Durna diajak masuk ruang gelap pula. Bukan mau afdruk foto 4 x 6 untuk persyaratan di KUA, tapi untuk timbang terima “kardus”. Dengan cara seperti ini Bethari Durga bisa mempengaruhi Dewi Drupadi melupakan suami, dan nantinya dengan mudah menerima cinta Pendita Durna. Biar secara phisik sudah tua, tapi pusaka “Cundamanik” Durna kan jarang pakai, sehingga pasti lebih jossss!

Sekeluar dari Pasetran Gandamayit, Pendita Durna menyaksikan dengan mata kepala sendiri, betapa Patih Udawa KW-2 sedang belajar gandrung sepanjang jalan. Kadang bilang “mbok meong wokkk wokkk kethekur” menirukan Burisrawa gandrung Wara Sembadra, tapi kemudian sudah berteriak “balung pakel dhuk mbok gunung” menirukan gandrungnya Gatutkaca pada Pregiwa. Kacau, jika wayang sudah gandrung turut lurung, jadinya seperti wong gemblung.

“Aku juga pernah muda, tapi tak sampai sebegitunya. Tanpa pakai gandrung segala, langsung saja tancap gas…..” kata batin Pendita Durna.

“Terang aja, kala itu kuda penjelmaan Dewi Wilutama kan sudah kamu cemplak, tinggal mundur-mundur ke balakang berapa lama,” kata hati nurani menyindir masa lalu Pendita Durna.

Tiga hari kemudian terjadi berita demikian menghebohkan, calon pengantin Patih Udawa ditangkap polisi atas tuduhan ujaran kebencian melalui medsos. Padahal dua minggu kemudian perkawinan dia melawan Dewi Antiwati akan digelar di Wisma Bethari. Sebetulnya musim pageblug Corona sekarang ini dilarang menggelar pesta yang mengumpulkan banyak orang, tapi Patih Sengkuni dapat dispensasi langsung dari kahyangan Jonggring Salaka.

Menurut berita koran dan media onlen-onlenan, di musim Covid-19 ini Patih Udawa menulis dalam akunnya, perlunya mengadakan penjarahan massal. Ini jelas perbuatan kontra revolusi. Di masa sulit akibat PSBB, sebagai patih Udawa justru bukannya membantu program pemerintah Dwarawati, tapi malah menjegalnya. Apakah dia berkeinginan menggantikan posisi Prabu Kresna?

“Asyik kan, istri baru singgasana baru pula.” Komentar publik lewat twitter.

“Ngakunya Patih Udawa, tapi kok nggak mikir dawa (menelaah)….” Komentar warga net lain.  (Ki Guna Watoncarita)