LIPI Ragukan Hasil Penelitian Inggris yang Sebut Calon Ibu Kota Baru Berpotensi Diterjang Tsunami Besar

Ilustrasi: Alat pendeteksi tsunami.

JAKARTA – Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) meragukan hasil penelitian Inggris yang menyatakan calon Ibu Kota baru di Kalimantan memiliki potensi diterjang tsunami besar.

Kepala Pusat Penelitian Geoteknologi LIPI Eko Yulianto mengatakan laporannya secara umum belum memberikan bukti yang cukup meyakinkan, karena datanya dari data seismik.

Eko menjelaskan peneliti yang menyebut adanya potensi tsunami di selat Makassar berasal dari interpretasi gambar seismik sebagai fenomena longsoran yang pernah terjadi di masa lalu. Lalu, dia mengatakan data itu tidak dapat menyimpulkan bahwa longsoran di kawasan itu memicu tsunami, tergantung mekanisme longsorannya.

“Di situ juga disebutkan bahwa dari gambar yang diperoleh itu seolah-olah longsoran memang terjadi secara tiba-tiba dan sebagainya,” ujarnya.

Lebih lanjut, Eko tidak menampik fenomena tsunami akibat longsoran material di laut. Misalnya, tsunami Majene pada tahun 1969 yang diakibatkan oleh longsoran dasar laut.

Adapun Selat Makassar, dia menyebut potensi tsunami bisa terjadi mengingat terjadlnya batimetri di sisi timur selat tersebut. Selain itu, sisi sebelah barat selat terdapat sungai besar yang selalu menambahkan sedimen, seperti sungai Mahakam dan sebagainya.

Eko mengatakan setiap wilayah Indonesia memiliki potensi ancaman tsunami. Adapun tsunami di Ibu Kota baru di Kalimantan, dia mengatakan tsunami bisa terjadi karena di pantai timur Kalimantan berhadapan dengan palung Selat Makassar yang terjal dan berada jalur gempa.

Eko juga menegaskan seluruh Indonesia punya ancaman tsunami jika berandai-andai. Dia mengatakan data yang dipublikasikan peneliti baru-baru ini masih sangat general meski dikaitkan dengan sedikit bukti.

“Baru akan menjadi sebuah bukti yang lebih meyakinkan kalau misalkan studinya itu sudah menemukan bukti tsunaminya di tempat yang dikatakan, misalnya calon Ibu Kota itu. Kalau tidak, bagaimana? Sains tidak bicara yang tidak berdasarkan bukti,” ujar Eko.

Sebelumnya, tim peneliti Inggris dikabarkan telah mengidentifikasi ancaman tsunami di Selat Makassar, antara pulau Kalimantan dan Sulawesi. Wilayah itu adalah rumah bagi lebih dari 1,6 juta orang dan calon ibu kota baru yang diusulkan oleh rezim Joko Widodo di Teluk Balikpapan, Kalimantan.

Para peneliti telah menganalisis data geologis yang mencakup lebih dari 2,5 juta tahun untuk menunjukkan sumber tanah longsor bawah air yang berulang. Tanah longsor diduga terjadi setiap 160.000 tahun.