Imbas Covid-19: Penganggur Naik, Ekonomi Lumpuh

Pandemi Covid-19 selain mengancam nyawa manusia, juga melumpuhkan ekonomi, meningkatkan pengangguran dan jika tidak diwaspadai bisa berkembang menjadi gejolak politik dan sosial.

PANDEMI Covid-19 selain mengancam nyawa manusia, juga membalikkan pertumbuhan ekonomi menjadi minus dan melonjakkan jumlah penganggur akibat tutup atau lesunya  aktivitas banyak usaha dan produksi.

Laporan BPS menyebutkan, jumlah pengangguran terbuka yang pada Februari lalu tercatat 6,88 juta orang, bisa melonjak sampai sembilan juta orang sampai Juni nanti, mengingat sampai saat ini penyebaran Covid-19 masih  berlangsung.

Walau pemerintah sudah menggelontorkan dana Rp450,1 triliun dana  stimulus ekonomi,termasuk Rp110 triliun untuk program Jaringan Pengaman Sosial (JPS), dampak positifnya bagi dunia usaha belum signifikan.

Sekitar 74 juta pekerja sektor informal (55,6 persen) dari 137,9 juta angkatan kerja  yang sebagian penerima upah harian dan pekerja serabutan adalah warga yang paling terimbas mata pencahariannya akibat program PSBB.

Sektor pariwisata, mulai dari tour operator, guide,  produsen dan penjual cinderamata, kuliner dan pekerja seni juga yang paling terpukul akibat penghentian atau pembatasan jadwal transportasi publik ke lokasi destinasi wisata.

Sementara anjloknya daya beli dan juga harga-harga akibat turunnya permintaan di tengah berbagai pembatasan sosial demi mencegah penyebaran Covid-19   juga sanngat memukul kehidupan para petani dan nelayan.

Selain akibat anjloknya permintaan, terputusnya mata rantai distribusi antara hulu dan hilir usaha pertanian juga harus segera dicari solusinya untuk mendongkrak kembali harga komoditas pertanian dan perikanan.

Sementara Menteri Keuangan Sri Mulyani mengemukakan, pembiyaan utang menjadi tantangan sangat besar yang dihadapi negara akibat melonjaknya defisit APBN yang juga merupakan imbas Covid-19.

Menurut dia, pemerintah harus menggalang utang sekitar Rp1.440 triliun bagi pembiayaan defisit APBN, investasi dan pembayaran utang yang jatuh tempo tahun ini.

Jika diasumsikan, pandemi Covid-19 berhasil diatasi sepenuhnya sampai akhir tahun ini, beban berat ekonomi juga belum bisa langsung menjadi ringan, karena diperlukan lagi biaya tinggi untuk pemulihan sosial-eknomi.