Pesan Damai Malam Al-Qadr

189 views

Memasuki sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan, setiap mukmin berpuasa dianjurkan untuk semakin konsentrasi dalam beribadah. Demikian salah satu pesan Nabi Muhammad dalam hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim. Dari Aisyah RA berkata: Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 ramadhan terakhir beliau bersungguh-sungguh dalam ibadah (dengan meninggalkan istri-istrinya), menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah”. Ibarat orang ikut lomba lari marathon, semakin mendekati garis finis, maka dia akan semakin kencang dalam berlari, seluruh tenaganya dikeluarkan untuk mencapai garis penghabisan bahkan berazam menjadi sang pemenang. Begitu juga seyogyanya, bagi mukmin berpuasa harus mengencangkan ikat tali, mengatur ritme nafas dan berazam untuk fakus beribadah dimalam-malam terakhir bulan ramadhan terlebih malam ganjil.

Dalam banyak riwayat dijelaskan bahwa disepuluh hari terakhir ini, Allah menjanjikan kebaikan yang kebaikan tersebut nilainya tak terhingga yaitu malam al-Qadr. Sebagaimana firman Allah dalam surat al-Qadr: 3 “Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Disebut malam a-Qadr paling tidak memiliki dua makna; Pertama, menurut Ali Asshabuny dinamakan malam al-Qadr karena kemuliaan malam tersebut mengalahkan kemulian malam, hari dan bulan yang lain. Di malam tersebut Allah tunjukkan keagungan, kesucian dan kelembutanNYA sebagai tanda bukti kemuliaan turunnya al-Quran, sebagaimana ungakapan orang Arab fulan dzu qadrin ‘adzim (fulan punya kemuliaan nan agung). Kedua, al-Qadr bermakna ketetapan (taqdir) dimana pada malam tersebut Allah menurunkan ketetapanNYA tentang kehidupan, kematian dan rizki. Pendapat  yang kedua ini merujuk pada  firman Allah dalam surat al-Dukhan: 3-4 “Sesungguhnya Kami menurunkannya (al-qur’an) pada suatu malam yang diberkahi. Dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah”.