Kepala Suku Amazon Takluk Oleh Covid-19

Salah seorang pria suku Amazon di Brazil mengenakan pakaian tradisional saat mengiringi prosesi kematian Ketua Suku Messias Kokama yang meninggal akibat terinfeksi Covid-19. Diduga 38 suku di wilayah hutan tropis itu terjangkit Covid-19.

KORBAN virus corona galur baru (Covid-19) tidak pilah-pilih, mulai dari kaum lansia renta yang rentan terutama karena sudah mengidap penyakit lainnya, bahkan orang yang dianggap sakti mandraguna atau yang dituakan di kelompok atau sukunya.

Salah seorang dari 35 kepala suku di wilayah pedalaman hutan tropis Amazon, Brazil, Messias Kokama meninggal dalam usia 53 tahun setelah mengalami gangguan berrnafas akibat Covid-19 dan komplikasi penyakit lainnya (14/5).

Ia sempat dirawat di RS di Manaus, kota terbesar Brasil di sekitar kawasan hutan hujan tropis Sungai Amazon yang dihuni sekitar 2.500 keturunan kelompok etnis pribumi di wilayah itu yang semula hijrah dari negara-negara tetangga seperti Kolombia dan tinggal di sekitar wilayah itu dalam kemiskinan.

“Kami kehilangan sosok kepala suku pemberani yang sudah berjuang membentuk masyarakat adat dengan pendidikan dan layanan bermutu, “ kata Vanderlecia Ortega, perawat pribumi yang merawat tokoh adat tersebut yang terinfeksi Covid-19 menjelang akhir hayatnya.

Berbeda dengan prosesi pemakaman  para pasien Covid-19 yang tidak bisa dihadiri lebih dari dua kerabat almarhum, otoritas kota Manaus memberikan pengecualian bagi para kerabat dan warga untuk  memberikan penghormatan terakhir pada Kokama.

Jenasah Kokama yang berada di peti mati terbuat dari kayu dan dibungkus plastik sesuai protokol kesehatan yang diberlakukan di tengah pandemi Covid-19 disemayamkan di sebuah bangunan sekolahyang dibangun oleh almarhum namun belum selesai.

Sementara itu, politisasi isu Covid-19 juga terjadi di Brazil, dimana Presiden Zair Bolsonaro mendapat kritikan tajam khususnya terkait penanganannya  di kota dagang terbesar di negara bagian Sao Paulo yang dinilai lamban.

Akibatnya, Gubernur Sao Paulo kewalahan menangani lonjakan korban Covid-19 sehingga terpaksa harus menyiapkan 13.000 peti mati untuk berjaga-jaga menampung korban meninggal berikutnya.

Presiden Bolsonaro sendiri saat diingatkan pers tentang jumlah korban meninggal di negerinya sudah mencapai lebih  5.000 orang akibat Covid-19, dengan enteng menjawabnya:

“Emangnya kenapa. Saya kan bukan Messias yang bisa membalik  keadaan. Ada orang yang akan mati, ada juga yang hidup, itu lah kehidupan, “ tuturnya.

Bolsonaro menganalogikan korban Covid-19 dengan industri mobil yang tidak harus ditutup gara-gara banyak kecelakaan lalu-lintas, dan kabarnya ia bersitegang dengan Gubernur Sao Paulo Joao Doria yang dinilainya membesar-besarkan angka korban untuk tujuan politik.

Pandemi Covid-19 selain telah menewaskan sekitar 295.000 orang dan memapar sekitar 2,5 juta manusia di 216 negara (sampai 16/5), juga menimbulkan ragam persoalan dimana-mana. (Reuters/NS)