Ke Senayan Mau Korupsi?

Kalau mau karena tak kuat iman, jadi politisi Senayan punya peluang besar untuk korupsi.

DALAM podcast (iPod + Broadcasting)-nya bersama Rian Ernest belum lama ini, mantan mentalist Deddy Corbuzier disarankan untuk masuk politik saja. Popularitas ada, tumpukan uang kertas juga banyak. Tapi host Hitam Putih di TV Trans-7 ini tidak mau, meski banyak tawaran. Deddy Corbuzier beralasan, “Kalau jadi politisi saya mau korupsi!” Maklumlah, korupsi salah, tidak korupsi ditekan.” Dan karena Deddy Corbuzier konsisten, alhmamdulillah tak ada rompi oranye KPK menghampirinya.

Jika politik itu ibaratnya fakultas di perguruan tinggi, setidaknya ada dua jurusan di sana. Yakni, jurusan Kepala Daerah dan jurusan Wakil Rakyat. Dua-duanya punya peluang untuk jadi koruptor. Jika tidak kuat iman dan mental, belum sampai 5 tahun sudah di-DO dengan diploma kamar penjara di LP Sukamiskin Bandung atau LP Cipinang, Jakarta. Sebelum masuk ke sana “diwisuda” dulu di KPK dengan kostum rompi warna oranye. Cakep bener dah!

Deddy Corbuzier tak mau terjebak dalam kondisi itu, masuk bui gara-gara korupsi. Dia menyadari akan kelemahan dirinya. Ini sama halnya orang yang  membatalkan keinginannya masuk Seminari Magelang (calon pastur) karena menyadari nafsunya masih bangkit ketika melihat wanita wajah bening dan bodi sekel nan cemekel. Bukankah pepatah lama juga mengingatkan, “Jika takut dilembur pasang, jangan berumah di pantai.”

Pepatah Jawa juga mengatakan, aja cedhak kebo gupak, yang artinya: jangan bergaul dengan penjahat, akan ketularan. Dalam politik baik jurusan Kepala Daerah maupun Wakil Rakyat, banyak sekali contohnya. Kepala Daerah, baik gubernur, bupati maupun walikota, saat ditekan DPRD untuk pembahasan APBD akhirnya ikut korupsi dalam bentuk kasih uang suap. Dalam UU Tipikor, memperkaya diri pihak lain juga bisa dianggap korupsi.

Paling riskan justru di DPRD dan DPR Senayan. Peluang untuk korupsi terbuka luas, karena mereka di bagian menekan pemerintah. Contoh kasusnya ombyokan, banyak DPRD jadi komplang (kosong) gara-gara sejumlah besar anggotanya ditangkap karena korupsi berjamaah. Merekalah yang menekan Kepala Daerah, “Jika tak  “pengertian” pada angota dewan RAPBD-nya takkan diloloskan.” Kepala Daerah takut juga pada akhirnya, meski itu sama saja bunuh diri.

Lihat saja data di KPK, sejak lembaga anti rasuah itu beroperasi di 2004, hingga kini tercatat 124 Kepala Daerah yang ditangkap karena korupsi. Untuk DPRD dan DPR lebih banyak lagi, hingga kini jumlahnya sudah lebih dari 210 orang. Soalnya sampai tahun 2018 saja sudah dikandangi 205, padahal di tahun 2019 masih ada saja wakil rakyat yang dijebloskan ke Rutan KPK gara-gara jadi wakil setan.

Setidaknya ada tiga orang top di negeri ini yang bernama Deddy. Selain Deddy Corbuzier, ada pula Deddy Miswar dan Deddy –aslinya Dedi– Mulyadi. Yang dua belakangan ini pernah intim menjadi Cagub dan Cawagub Jabar di Pilkada 2018. Sayangnya, mereka hanya terhenti di calon saja, gara-gara salah komposisi. Mestinya Cagubnya Dedi Mulyadi dan Cawagubnya Deddy Miswar, baru itu maung (macan) Jabar.

Maklumlah, Dedi Mulyadi lebih berbakat jadi politisi dan Deddy Mizwar bakatnya memang main sinetron sekaligus sutradaranya. Terus terang saja, dulu dia digandeng Ahmad Heryawan jadi Wagub Jabar bukan pertimbangan kwalitas, tapi sekedar elektabilitas. Maklumlah orang Indonesia, memilih pemimpin bukan karena pertimbangan handal, yang penting terkenal. Ini sama halnya ketika Rano Karno digandeng jadi Wagub Banten oleh Ratu Atut Khosiah, dia juga hanya diambil manfaatnya untuk mendongkrak elektabilitas.

Maka ketika Deddy Mizwar tak terpilih jadi Wagub Jabar, penonton TV justru senang. Sebab  karya-karya dia di dunia sinetron lebih ditunggu, ketimbang jadi Wagub yang tak ada gebrakannya. Semua tahu, sinetron Kiamat sudah dekat, Mencari Tuhan; adalah sinetron serie yang jadi sajian menarik setiap bulan Ramadan. Kenapa sebagai pejabat pemerintrah dia gagal, kata warganet: karena kebanyakan minum obat mag dan makan sosis. (Cantrik Metaram)