Siap Jadi Peganggur, Kencangkan Sabuk

219 views
UMP
Gelombang PHK tidak terhindarkan jika pandemi Covid-19 tidak bisa dihentikan, sementara pelonggaran PSBB tidak mampu menggerakkan lagi roda-roda kegiatan ekonomi.

PANDEMI Covid-19 belum usai, bahkan tren angka kasusnya terus naik  dari hari ke hari, sementara pelonggaran protokol kesehatan juga belum mampu menggerakkan roda-roda kegiatan ekonomi dan usaha.

Menaker Ida Fauziah (18/6) memperkirakan, bakal ada penambahan sampai 5,3 juta, bahkan KADIN memperkirakan 6,5 juta  penganggur baru dari  sebelumnya sekitar 6,9 juta orang di masa normal akibat kelesuan kegiatan usaha di tengah pandemi Covid-19.

Sementara Riset Center of Reform on Economics Indonesia (Core) memprediksi, berdasarkan skenario perlambatan ekonomi ringan jumlah penganggur baru secara nasional akan bertambah sekitar 4,3 juta orang, skenario sedang 6,68 juta orang dan yang terburuk 9,35 juta orang.

Hal senada juga dilontarkan Wakil Ketua KADIN Anton J Supit yang menyebutkan, sulit untuk menekan PHK di tengah kelesuan permintaan pasar dan  produksi, sementara pelonggaran protokol kesehatan belum mampu menggairahkan kegiatan usaha.

Saat ini tercatat sekitar 137,9 juta angkatan kerja di Indonesia, lebih separuhnya atau sekitar 70 juta orang bekerja di sektor informal, termasuk yang mengandalkan upah harian sehingga amat rentan terimbas Covid-19.

Otomatisasi demi mengejar efisiensi melalui teknologi, menurut Anton, membuat PKH sudah berada di hadapan mata walau para pengusaha tetap berupaya mencegahnya.

Anton menyebutkan, usaha tekstil merupakan sektor paling terpukul yang akan merumahkan 2,1 juta pekerjanya, disusul transportasi dengan 1,4 juta pekerja, industri sepatu dan alas kaki (500-ribu), perhotelam (450-ribu), ritel (400-ribu) dan farmasi (200-ribu).

Menkeu Sri Mulyani juga kembali menambah anggaran Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) akibat pandemi Covid-19 untuk keempat kalinya, dari pertama kali Rp405,1 triliun, naik ke Rp 677,2 triliun, lalu Rp 695,2 triliun dan yang terakhir Rp905,1 triliun.