Konflik Sesama Arab, Israel Pemenangnya

801 views
Pasukan kubu Tentara Nasional Libya (LNA) pimpinan Jenderal Khalifa Haftar yang memerangi rezim pemerintah Libya tampak sedang berpose. Konflik Libya semakin parah karena intervensi banyak pihak.

TIMUR Tengah merupakan kawasan yang nyaris tak pernah sepi gejolak, kali ini ini konflik antara sesama negara Arab yakni Mesir dan Libya di ambang mata diwarnai saling ancam antara kedua belah pihak.

Presiden Mesir Abdel Fatah el-Sisi, Sabtu lalu (20/6) menyatakan negaranya memiliki hak syah untuk mengintervensi Libya dan saat ini sudah menyiagakan kekuatan militernya.

Pernyataan el-Sisi tersebut terjadi di tengah eskalasi ketegangan di Libya akibat campur tangan Turki dalam  perang saudara di negeri itu sepeninggal diktator Muammar Khadafi pada 20 Okt. 2011.

Turki mendukung rezim Kesepakatan Nasional Libya (GNA) pimpinan PM Fayez al-Sarraj yang menguasai ibukota, Tripoli, sebaliknya, Mesir, Arab Saudi, Bahrain, Uni Arab Emirat dan Rusia di belakang kubu Tentara Nasonal Libya (LNA) pimpinan Jenderal Kalifa Haftar yang bermarkas di timur negara itu.

Kedua belah pihak yang bertikai saat ini sedang berupaya merebut dua kota strategis di Libya Tengah yakni Jufra (500 Km arah timur Tripoli) dan Sirte (650 Km arah tenggara Tripoli). Posisi sementara, kubu GMA di atas angin berkat intervensi tentara Turki.

El-Sisi menetapkan kedua kota sebagai batas “zona merah” yang tidak boleh dilanggar GMA, sebaliknya pemerintah Turki merespons ancaman El-Sisi dengan meminta pasukan  LNA untuk mundur dari Jufra dan Sirte demi tercapainya gencatan senjata.

Saling ancam antara pendukung kedua belah kubu yang bertikai di Libya tentu saja menambah keruwetan penyelesaian konflik di negeri itu setelah melalui serangkaian peundingan, terakhir di Berlin Januari lalu menemui jalan buntu.

Keterlibatan kekuatan global seperti Rusia, Turki yang juga anggota Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO), begitu pula Arab Saudi, Bahrain dan UEA dikhawatirkan akan membuat Libya menjadi ajang pertumpahan darah berlarut-larut seperti seperti terjadi di Suriah sejak 2011 yang telah merenggut lebih 300-ribu orang dan menciptakan jutaan pengungsi.