Gubernur Khofifah Sebut Kepatuhan Masyarakat Surabaya Rendah sehingga Angka Corona Meningkat

Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa/ Foto: Kanalsatu

SURABAYA – Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa melaporkan pada Presiden Jokowi jika tingkat kepatuhan masyarakat di wilayah Surabaya Raya rendah dalam menerapkan protokol kesehatan.

Paparan itu merupakan hasil kajian dan survei Ikatan Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga (FKM Unair) Surabaya.

Khofifah mengungkap bahwa persentase ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan di tempat-tempat umum masih sangat tinggi.

“Temuan IKA FKM Unair, bahwa di tempat ibadah yang aktif masih 81,7 persen, yang tidak menggunakan masker 70,6 persen, kemudian yang tidak physical distancing masih 64, 6 persen,” ujar Khofifah.

Dia menambahkan,  di pasar tradisional maupun tempat berkumpul masyarakat tingkat kepatuhan masyarakat Surabaya Raya di bawah 20 persen. Dia menyebut masyarakat yang tidak memakai masker di pasar 84 persen, sedangkan di tempat tongkrongan 88 persen.

“Pasar tradisional meskipun kami sudah membagi masker berkali-kali, kami juga minta untuk menggunakan face shield, tapi masih 84,1 persen tidak menggunakan masker, 89 persen belum physical distancing,” ucapnya.

Selain itu, di tempat cangkrukan, masih ada 72,5 persen yang masih aktif, 88, 2 persen mereka tidak menggunakan masker dan 89 persen mereka tidak physical distancing.

Khofifah mengatakan ketidakpatuhan memicu munculnya klaster-klaster baru terutama yang terkait potensi kerumunan massa itu berasal.

Rendahnya tingkat kepatuhan masyarakat Surabaya Raya ini membuat upaya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di Surabaya, Gresik dan Sidoarjo selama ini tak membuahkan hasil yang diharapkan.

Hal itu dilihat dari rate of transmission atau tingkat penularan di daerah ini sempat di bawah satu ketika PSBB, kini kembali meningkat jelang dihentikannya PSBB, hingga penerapan masa transisi kini.

“Kami sempat mendapatkan kebahagiaan ketika tanggal 9 Juni sebetulnya rate of transmission di Jawa Timur sudah 0,86 persen, tapi kemudian ada kenaikan kembali pada tanggal 24 kemarin menjadi 1,08 persen,” ujarnya.