BEGAWAN BAJRABUWONO

391 views
Sudah bongkok, Begawan Bajrabuwono makin nunduk-nunduk pada Semar saking takutnya.

PERTAPAN Jati Tembara belakangan tambah ramai, karena cantrik-cantrik yang berguru di situ semakin banyak. Tak hanya cantrik kelas akar rumput saja, bahkan sejumlah elit politik di Ngamarta dan Ngastina ikut pula menjadi muridnya. Misalnya Bima dan Harjuna dari Pendawa, Burisrawa-Kartomarmo-Durmagati dari Ngastina. Mereka ini cantrik-cantrik istimewa, sebab rela bayar SPP lebih gede dari seharusnya. Jika cantrik biasa bayar Rp 200.000., cantrik elit mau saja dimintai Rp 2 juta sebulan. Itung-itung sebagai donatur tetap untuk yayasan.

Siapa pemilik pertapan ini? Tak lain tak bukan adalah Begawan Bajrabuwono. Dari mana asalnya tak jelas. Yang pasti, sebagaimana lazimnya begawan, dia ke mana-mana pakai jubah kebesaran, kepalanya yang gundul bulat mirip buah melon dibungkus surban, tapi bukan putih melainkan batik motif parang rusak. Karenanya jika dilihat sepintas Begawan Bajrabuwono seperti pakai blangkon metaraman.

“Baca belum kamu dimas Harjuna, Begawan Bajrabuwono guru kita viral di medsos, karena bikin chatting mesum dengan janda Dewi Premoni dari kahyangan.” Kata Bima di sebuah pagi.

“Belum kangmas, aku belum buka HP karena pulsa paketannnya habis.” Jawab harjuna jujur bahwa kantong lagi bokek.

Belakangan Begawan Bajrabuwono memang menjadi tokoh kontroversial. Dia guru spiritual tapi suka ngomong politik, mengritik dan mengecam pemerintahan Pandawa dan Ngastina. Jadi dia telah merusak nama sendiri. Seorang begawan kan seharusnya kepada cantrik-cantriknya selalu mengajak kebenaran dan mencegah kebatilan, bahasa populernya: amar makruf nahi munkar. Tapi dia selalu menyerang pemerintah. Alun-alun Tegal Kurusetra sering dijadikan ajang demo sambil mengelilingi tugu Srengga Kencana, symbol kemenangan perjuangan negara Pandawa – Ngastina.

Bagi Begawan Bajrabuwono, Jamus Kalimasada yang disakralkan Pandawa itu tidak perlu. Begitu juga kitab Jitapsara yang dikeramatkan Jonggring Salaka, nonsenslah semuanya. Tanpa Jamus Kalimasada dan kitab Jitapsara, negara Amarta-Ngastina-Wiratha-Pancala dan Dwarawati bisa adil makmur dalam kesatauan bangsa wayang sekotak asalkan mengikuti petunjuknya.