Marahnya Presiden Jokowi

283 views
Sepotong ekspresi kemarahan Presiden RI: Sukarno, SBY dan Jokowi.

MARAH itu naluri dan sangat manusiawi. Dari tukang becak sampai presiden pasti pernah mengalami. Jika ada perbedaan, kemarahan tukang becak hanya berimbas pada keluarga dan tetangga, kemarahan seorang presiden bisa berdampak se-nusantara bahkan internasional. Maka kemarahan seorang Kepala Negara akan dicatat dalam sejarah. Bung Karno pernah marah karena dikentuti Soeharto (Supersemar), Soeharto pernah marah karena digrecokin Ali Sadikin Cs (Petisi 50), dan Jokowi marah karena menterinya kerja lamban di tengah krisis Corona.

Sekitar pertengahan Maret 1966 Bung Karno marah-marah pada Jendral Soeharto, karena dia merasa dikentuti. “Supersemar itu dibuat untuk mengamankan keadaan, bukan pengalihan kekuasaan,” kata Bung Karno. Sekian puluh tahun kemudian Pak Harto berkuasa gentian memarahi Ali Sadikin Cs karena lewat Petisi 50 hendak mengkritisi pemerintahannya. Pak Harto siap menggebuk siapa saja yang melanggar konstitusi.

Ternyata alasan serupa digunakan Jokowi, dia juga akan menggebuk siapa saja yang bertindak di luar koridor hukum dan demokrasi sesuai konstitusi. Dan kali ini lagi-lagi Presiden kembali marah, tapi bukan masalah konstitusi melainkan karena para menterinya tak punya intuisi. Bagaimana tidak? Dalam kondisi genting karena Corona para menteri kerja standar saja. Pinjam istilah sekarang, “Santai saja Coy.”

Ada media online yang sempat mencatat, sudah berapa kali Jokowi marah sebagai presiden. Dari periode pertama hingga sekarang ini, tercatat 11 kali marah-marah.  Masalahnya macem-macem, dari kecewa akan kinerja kabinetnya, pihak luar yang  merongrong program kabinetnya. Dalam kemarahan itu jika tak mengancam dengan reshuffle kabinet, juga akan menggebug, ngomel sontoloyo, menggigit dengan caranya sendiri, sampai akan membubarkan lembaga dan ganti menteri.

Tapi kata pakar semiotika (gesture) dari UI, Ibnu Hamad, tingkat kemarahan Presiden Jokowi kali ini sudah sampai ke level 9, karena pakai wajah menyeringai segala. Namun demikian kemarahan Presiden Jokowi masih terkontrol, tidak sampai seperti Prabu Baladewa wayang kulit yang memaki “ongkak-angkik bedagan ala” atau meremas-remas nasi dan membalikkan meja seperti Aryo Penangsang, gara-gara menerima surat tantangan perang dari Sultan Hadiwijaya.