Bantu Janda Manah Perbaiki Rumah

Rumahnya hampir roboh, bocor dan berlantai tanah. Warga Desa Kedung Jaya, Bekasi Utara ini, sehari-hari menjadi buruh pengupas kerang, penghasilannya hanya cukup untuk menghidupi 3 anaknya. Jika hujan turun ia dan anaknya tidur di teras rumah.

173 views
Rumah Manah, hampir roboh, bocor dan masih berlantai tanah. Foto: Intan

BEKASI– Rumah Manah, di Desa Kedung Jaya, Bekasi udah miring, bocor dan berlantai tanahTinggal di rumah yang nyaman menjadi impian setiap orang, tapi tidak demikian bagi Manah, seorang janda dan ibu dari tiga anak yang tinggal di Desa Kedung Jaya, Babelan, Bekasi Utara.

Ia mengubur jauh-jauh keinginan tinggal di rumah idaman, karena kenyataannya ia hanya seorang single parent dan miskin. Ia sebagai buruh pengupas kerang dengan penghasilan yang jauh dari cukup. Jadi rumah idaman, sampai saat ini baginya bagai sipunggu merindukan bulan.

Pondok Manah, berada di antara deretan rumah yang berdiri kokoh di pinggiran bantaran kali di sekitar RT 13 Desa Kedung Jaya.

Di antara rumah yang permanen itu, Rumah Manah terlihat paling memprihatinkan, karena sudah terlihat miring, dan bisa kapan saja roboh jika terhempas angin kencang. Alasan itulah yang membuat Manah mengaku, terpaksa tidur di luar rumah jika hujan deras mengguyur. Takut sewaktu-waktu rumahnya roboh.

Janda Manah

“Saya sama anak saya pasti keluar rumah kalau hujan gede, takut roboh,” ungkap Manah, yang mengaku tidak mengetahui usianya saat ini berapa tahun.

Bangunan rumah berukuran 2×3 meter tersebut diakuinya dibuat sang suami, yang sudah meninggal dunia setahun lalu.

Janda Manah“Ketika masih hidup, suami biasanya masih bisa benerin rumah dikit-dikit kalau kenapa-kenapa, tapi ini sekarang dia udah nggak ada, ya udah dibiarin aja,” katanya.

“Suami sakit, kakinya bengkak, nggak tahu kenapa, karena nggak pernah berobat, ada setahunan sakit tidak bisa jalan, sampai nafsu makannya hilang dan badannya kurus kering, terus meninggal,” kisahnya, ketika ditanya penyebab kematian suaminya.

Kembali menengok penampakan rumahnya, bangunan yang terbuat dari bilik beratapkan asbes tersebut berbentuk tiga petak, yakni ruang tamu, satu kamar tidur tanpa pintu, dan dapur, tanpa adanya kamar mandi.

Kamar tidur Manah masih berlantai tanah

Masuk ke rumahnya harus menggunakan sandal karena belum ada lantai dan masih berupa tanah. Di ruang tamu, terdapat satu kasur beralaskan tikar yang tampak lusuh karena terkena banjir awal tahun 2020.

Kondisi dapur pun tidak kalah memprihatinkan, hanya terdapat satu kompor dan beberapa ember tempat menampung air untuk memasak.

“Ya, begitu keadaan di sini, saya berharap ada keajaiban bantuan biar bisa perbaiki rumah ini, soalnya kalau perbaiki sendiri uang dari mana, kadang sehari cuma dapat Rp 12 ribu dari upah ngupas kerang tiga kilo,” harapnya.

Disinggung masalah bantuan dari Desa, dia mengaku hanya mendapat bantuan Rp100.000 per bulan untuk anaknya yang paling kecil karena masih di bawah umur, dan tercatat sebagai anak yatim dan tidak mampu.

“Cuma anak yang kecil si Kardi yang dapet, kalau yang dua kan sudah umur 15 sama 17 jadi nggak dapat apa-apa, paling dia cari uang buat makan bantu saya kerja serabutan ikut bangunan atau apalah,“ ungkap Manah ke Larawana Intan Sari Widuri, Kontributor marimembantu.id, ketika berkunjung ke rumah Manah, bulan lalu

Kamar Manah berlantai tanahMeski tak akan pernah mampu mengujudkan mimpi memiliki rumah idaman, ia tetap berharap pada Allah agar ada tangan-tangan malaikat Allah di bumi yang membantunya untuk mengujudkan sebuah rumah yang layak. Aamiin Yra. –

Melihat kondisi ini, Tim Mari Membantu tergerak untuk membantu Manah merenovasi rumahnya agar layak huni. Untuk tahap 1 ini, ingin merenovasi atap rumah Manah yang bocor dan lantai rumah yang masih tanah. Diperkirakan menghabiskan biaya Rp25 juta. – Maifil / marimembantu.id