Maria Lumova Diekstradisi, Tak Perlu Euforia

198 views
Sukses pemulangan buron tersangka pembobolan BNI dalam kasus L/C fiktif senilai Rp1,7 triliun Maria Lumowa, hendaknua diikuti pencokokan puluhan buron lainya termasuk Joko Tjandra.

SUKSES pemerintah RI mengekstradisi buron tersangka kasus pembobolan BNI  Rp1,7 triliun, Maria Pauline Lumova (60) menjadi “pelipur lara” sejumlah instansi negara yang baru saja dipermalukan Joko Tjandra.

Tampak wajah semringah Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly berstelan jas warna gelap dan topi cowboy saat ikut “mengawal” buronan sekitar 17 tahun itu dalam penerbangan dari Belgrade, Serbia ke Jakarta, Rabu (7/7).

“Keberhasilan menuntaskan proses ekstradisi ini tak lepas dari diplomasi hukum dan hubungan baik kedua negara, “ kata Yasonna Laoly  dalam keterangan tertulisnya.

Maria, bos PT Gramarindo Group adalah tersangka pembobolan kas bank BNI Kebayoran Baru, Jakarta  bermilai seluruhnya sekitar Rp 1,7 triliun  transaksi Letter of Credit (L/C) fiktif, dari Okt. 2002 hingga Juli 2003.

Tiga belas terdakwa terkait kasus tersebut sudah dijatuhi hukuman, namun Maria sempat kabur dan bermukim di Belanda sebelum ia akhirnya dicokok Interpol Serbia di bandara Int’l  Nicola Tesla, Belgrade,   16 Juli 2019.

Walau tidak terikat perjanjian ekstradisi dengan RI, pemerintah Serbia agaknya merasa “berhutang budi” pada RI yang pernah membantu pemulangan buronan kakap kasus pemalsu sejumlah kartu kredit, Dmitar Nikolo Iliev pada 2015.

RI memang pernah meminta Kerajaan Belanda mengekstradisi Maria, namun ditolak, dengan alasn, hukum di negara itu tidak memungkinkan warga negaranya diadili di negara lain.

Walau pun perlu diapresiasi, pencokokan Maria selayaknya tidak  membuat penegak hukum di negeri ini menikmati euforia berlebihan, karena keberhasilan itu juga berkat kontribusi pemerintah Serbia.

Joko Tjandra dan lainnya

Selain Joko Tjandra yang buron sejak 2009, lebih 20 tersangka pembobolan bank kelas kakap lainnya yang raib tak tentu rimbanya hingga kini seperti Eddy Tanzil, Syamsul Nursalim, Samadikun Hartono dan lainnya.