Hagia Sophia Jadi Masjid, Menuai Pro-Kontra

Museum Hagia Sophia di Istanbul berdasarkan keputusan hakim Turki, resmi dialihfungsikan menjadi masjid mulai Jumat lalu (10/7) di tengah pro-kontra negara dan kelompok agama lain.

KEPASTIAN tentang perubahan status museum Hagia Sophia, Istanbul terwujud setelah pengadilan Turki memutuskan salah satu situs peninggalan sejarah tersebut menjadi masjid.

Umat muslim bisa menarik nafas lega, karena dengan diumumkannya alih fungsinya menjadi masjid oleh Presiden Turki Tayyip Recep Erdogan Jumat lalu (7/9), mereka sudah bisa menggunakannya sebagai tempat peribadatan.

Hagia Sophia yang dibangun di era Kekaisaran Kristen Byzantium pada abad ke-6, diambil alih Kekaisaran Islam Ottoman (Kekhalifahan Ustmaniyyah) dan dijadikan Masjid Ayasofya setelah menaklukkan Konstantinopel, kini menjadi Istanbul.

Namun masjid Ayasofya berubah fungsi lagi menjadi museum Hagia Sophia berdasarkan keputusan pengadilan di era Turki modern berpaham sekuler di bawah kepemimpinan Mustafa Kemal Ataturk pada 1934.

“Alllahuakbar, “ seru ratusan warga yang menanti di luar gedung pengadilan setempat, menyambut keputusan yang mereka tunggu-tunggu.

Sebelumnya kelompok muslim Turki telah lama berkampanye untuk  mengubah Hagia Sophia menjadi masjid karena hal itu dinilai lebih baik guna merefleksikan status Turki sebagai negara dan bangsa yang islami.

Sebaliknya,  yang kecewa a.l. kelompok gereja Kristen Orthodox, Rusia yang langsung menentangnya dan juga Kemlu AS yang meminta agar semua pihak mendapat akses sama dalam pemanfaatan  situs peningalan sejarah itu.

Pemerintah Yunani juga mengecam keras alih fungsi Hagia Sophia menjadi masjid  dan menganggap keputusan itu bakal berdampak tidak hanya pada hubungan kedua negara, tetapi juga antara Turki dan  Uni Eropa.

“Yunani mengecam keras keputusan Turki. Ini adalah keputusan  yang menyinggung semua orang yang juga mengakui Hagia Sophia sebagai Situs Warisan Dunia, “ demikan pernyataan Kantor PM  Yunani Kyriakos Mitsotakis (11/7) .

Sedangkan kepala spiritual 300 jutaan pemeluk Kristen Ortodoks sejagat berbasis di Istanbul, Patriark Ekumenis Bartholomew menganggap keputusan pemerintah Turki itu mengecewakan umat Kristen dan bisa “memecah belah” antara Timur dan Barat.