SARJOKESUMA LENA

Melihat Abimanyu dalam kondisi sakratulmaut, Sarjokesuma ambil keris untuk cari kesempatan jadi pahlawan kesiangan.

JIKA ada wayang penganggguran tertutup, salah satunya adalah Sarjokesuma, putra Prabu Jokopitana yang lebih sering dipanggil Jokopit. Dia tak memiliki pekerjaan jelas, tapi tidak sampai ngebelangsak karena ekonomi ditanggung orangtua. Padahal orangtuanya orang nomer satu di Ngastina, tentu saja dia jadi penganggur yang makmur. Bayangkan, uang jajannya saja Rp 10 juta sehari, itupun harus habis tanpa saldo.

Duit boleh banyak, status boleh anak raja, tapi penampilan Sarjokesuma memang di luar standar. Tampangnya lholak-lholok (kebego-begoan), suara cempreng, gaya jalannya unclag-unclug tak berwibawa sama sekali. Dengan demikian mana ada cewek tertarik padanya, biar babenya orang kaya raya sekalipun. Cewek kan maunya pria gallant, jantan, bukan sekedar punya alat kejantanan.

“Dikawin sama Sarjokesuma? Ogah, mending jadi perawan tua,” kata seorang gadis di bilangan Ngastina.”

“Bapaknya saja kayak gitu, bagaimana anak kita nanti. Ngrusak turun, amit-amit deh….”, kata gadis yang lain menimpali.

Sepanjang usianya yang sudah 40 tahun dewasa ini, Sarjokesuma punya jejak rekam hanya seputar ditolak cewek melulu. Dulu pernah naksir Pregiwa, tapi kalah oleh Gatutkaca. Mengincar Pregiwati, yang dapat malah Pancawala. Pernah pula mau mengawini Jenakawati putri Harjuna, eh……yang dapat surat nikah di KUA justru Lengkungkusuma anak Petruk.

Bahkan, pernah pula naksir anak Pak RW, Sarjokusuma masih kalah juga. Gadis itu pada akhirnya malah dipersunting Fredy Kasmuri, oknum LSM yang kerjanya nggrecokin dana BOS di sekolah-sekolah. Istilah kata, Sarjokesuma ini memang produk gagal yang tak layak jual.

“Hai Sarjokesuma, sampai usia 40 kok belum punya istri, bagaimana nanti nasibmu nak? Dinasti kita bakal putus. Bagaimana kalau kamu terjun ke politik saja, misalnya ikut pemilihan Walikota, bapak nanti bisa bantu.” Kata Prabu Jokopit demi mendongkrak nasib putra kesayangannya.

“Nggak mau rama, saya nggak punya bakat jadi politisi. Biarkan saya mengikuti jejak Eyang Bisma saja, seumur hidup nggak usah nikah….,” jawab Sarjokesuma seakan sudah nglokro (putus asa).

“Husy…..jangan ngomong begitu, kalau denger Eyang Bisma bisa digugat kamu. Bapak yang repot nantinya.”

Demikianlah, Sarjokesuma tetap tidak laku di pasaran. Kalangan pengamat sosial menganalisa, putra Prabu Duryudana ini menjadi generasi mogol (produk gagal) karena ulah orangtuanya juga. Maksudnya, dia memikul dosa sang ibu Dewi Banowati yang cintanya bercabang-cabang. Bagaimana tidak, dia istri Prabu Jokopit tapi cintanya justru pada Harjuna. Bahkan ketika “melayani” Prabu Duryudana di tilamrum (ranjang) justru Banowati sambil membayangkan Harjuna. Jadi kerja tidak fokus!

Bahwa Dewi Banowati lebih cinta pada Harjuna ketimbang suaminya, Prabu Duryudana, itu sudah menjadi rahasia publik. Video call Harjuna-Banowati pernah jadi viral gara-gara dibongkar akun “Digembok”. Untung saja Harjuna wayangnya neblek (tahan malu), sehingga dia tak perlu lapor polisi dan memperkarakan akun-akun yang suka membongkar rahasia orang.

“Kenapa Raden Harjuna tidak menuntut akun “digembok”, itu kan pencemaran nama baik?” tanya pers.

“Ngapain? Itu sama saja saya kasih makan para pengacara. Sebab mereka sudah banyak menawarkan diri untuk menggugat akun tersebut. Dia dapat duit, nama saya tetap saja tak bisa dipulihkan,” jawab Harjuna santun.

“Kenapa sampean nggak kabur saja ke luar negri, pura-pura kunjunngan diplomatic kek, atau berobat kek…..”

“Memangngnya saya penganut ban radial? Enak saja….”

Heboh soal Harjuna-Banowati main videocall-an larut dengan sendirinya, karena kemudian negeri Ngamarta-Ngastina disibukkan dengan urusan Perang Baratayuda  Jayabinangun (PBJ) yang sudah mulai digelar. Sesuai kitab Jitapsara yang menjadi panduan atau scenario perang memperebutkan negara warisan leluhur itu, meski jadi senopati PBJ resikonya bisa mati, tetap saja banyak pesertanya. Sebab mati pun nanti masuk swarga pangrantunan, yang dijamin kehidupan abadi yang nyaman, bebas bayar pajak, boleh mengawini bidadari berapa saja.

Siapa yang bakal dimatikan atau kalah dalam PBJ, yang tahu hanya para dewa dan Prabu Kresna Panpel PBJ. Sebab dia termasuk komisi yang menggodog Kitab Jitapsara, sehingga ditemukan komposisi yang adil antara para tokoh yang jadi senopati PBJ. Prabu Kresna pernah berdebat keras dengan SBG (Sanghyang Betara Guru), ketika Antarejo harus diperlawankan dengan Prabu Baladewa. Bisa peperangan takkan kunjung selesai karena sama-sama saktinya.

“Ya sudah, maunya Kresna bagaimana?” ujar SBG karena sudah capek debat.

“Baladewa-Antarejo ditarik dari scenario PBJ, aku bisa mengatur semuanya.” Kata Prabu Kresna waktu itu, dan ternyata semua dewa juga setuju karena rapat seharian tanpa makan dan minum gara-gara dilarang buka masker selama rapat.

Begitulah, PBJ telah berlangsung di Tegal Kurusetra. Baru berlangsung beberapa hari beberapa tokoh penting Ngastina dan Kurawa sudah wasalam dalam perang, misalnya Resi Seta dari kubu Pandawa dan Resi Bisma dari kubu Kurawa. Untuk perang kelanjutannya Pendawa memajukan Abimanyu, putra Harjuna yang masih begitu muda sudah berani poligami. Istri pertama Siti Sendari, istri kedua Dewi Utari.

“Wahai kedua istriku, kangmas mohon doanya ya, hari ini tiba jadwalnya saya ikut PBJ, membela bumi Ngastina warisan leluhur kita.”

“Kalau kangmas mati di medan laga bagaimana, kita-kita jadi janda dong.” Ujar Siti Sendari dan Dewi Utari seakan tidak rela.

“Semoga saja mimpi buruk itu tak sampai terjadi, saya aman-aman saja.”

Abimanyu pun berangkat ke Tegal Kurusetra dengan berat. Selain harus meninggalkan istri Dewi Utari yang sedang hamil, juga ingat akan sumpahnya dulu saat merayu Utari. Kala itu dia sudah beristri, tapi berani mengaku bujangan. Katanya waktu itu, kalau ternyata saya sudah punya istri, biarlah nanti mati diranjap (dimutilasi) dalam perang. Dan sekarang harus membuktikan sumpahnya itu. Bagaimana rasanya tubuh-tubuh dicacah-cacah begitu rupa, wong baru kena silet saja sakitnya bukan main.

Begitu Abimanyu masuk arena pertempuran, langsung dikeroyok oleh prajurit Kurawa. Soalnnya mereka menganggap kesaktian putra Abimanyu ini juga seperti ayahnya, tak hanya jago di ranjang, tapi juga jago perang. Dan betapapun ampuhnya Abimanyu, dikeroyok wayang Kurawa yang jumlahnya begitu banyak macam PA-212 demo di DPR, keok jugalah. Ada yang membacok pakai parang, pakai celurit bikinan Madura, ada pula yang menjojohnya pakai tumbak.

“Mampus kau Abimanyu,” pekik prajurit Kurawa.

“Gara-bapak elu, gua gagal kawinin Sembadra,” ujar Burisrawa sambil pula menggebuk Abimanyu yang hampir sekarat itu.

Adalah Sarjokesuma, dalam PBJ ini dia tak pernah didapuk sebagai senopati. Kalau dia ikut datang ke Tegal Kurusetra, hanyalah penggembira belaka. Ikut lari ke sana, lari ke sini, sekedar ngguyubi (akur) teman. Padahal apa maksud dan tujuan PBJ tersebut, dia sama sekali tak pernah memikirkan dan memang tak paham juga.

Begitu melihat Abimanyu kepayahan menjelang ajal, para prajurit Ngastina meninggalkannnya. Dalam situasi demikian, tiba-tiba Sarjokesuma ingin jadi pahlawan meski kesiangan pula. Dia ambil keris untuk nyampurnakake (menyegerakan) kematian Abimanyu rivalnya dalam segala hal. Siapa tahu dengan tindakannya ini dia akan menjadi viral, dielu-elukan cewek Ngastina.

“Matilah kau Abimanyu….” Ujar Sarjokesuma dengan pongahnya,

Di luar dugaan, meski sudah sakratul maut, Abimanyu masih bisa mengkode Yamadipati, agar pencabutan nyawanya ditunda barang beberapa detik saja. Dan benar saja, seiring dengan mengangguknya Yamadipati, Sarjokesuma yang mendekati dirinya dengan keris segera ditusuk duluaan, jusss……matilah Sarjokesuma di tangan Abimanyu. Tak lama kemudian roh keduanya jalan beriringan, Abimanyu menuju swargaloka dan Sarjokesuma menuju arah nerakanya wayang, karena di situ ada papan penunjuk Kawah Candradimuka 100 M. (Ki Guna Watoncarita).