Data Corona Dalam Senyap

Walikota Surabaya Tri Rismaharini ketika sujud dan menangis, karena dipaido IDI dalam menangani Corona.

SEJATINYA penyakit TBC lebih dasyat ketimbang Corona, karena jumlah korban TBC jauh lebih banyak. Tapi hanya karena Corona menang publikasi internet dan media massa, jadilah dia  penyakit maha mengerikan. Setiap sore ketika menonton TV, banyak rakyat yang “trauma” karena Jubir Covid-19 dr Ahmad Yurianto selalu membawa kabar kematian, di mana jumlahnya selalu meningkat dengan pesat.

Tapi mulai kemarin dr Ahmad Yurianto sudah tidak lagi muncul di TV. Jubir Corona kini digantikan oleh Prof. Wiku Adisasmito, sehingga update Covid-19 bukan lagi disampaikan dr Ahmad Yurianto. Itupun tak lagi diumumkan secara rutin di TV, tapi cukup “diam-diam” lewat internet. Biar rakyat tidak panik?

Ahmad Yurianto kembali ke pangkalan, sebagai Dirjen  Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes. Tentunya dia lebih nyaman dengan posisi itu. Karena selama mengumumkan korban Corona, baik yang meninggal, sembuh maupun korban positip yang baru, citranya menjadi “buruk”, sebab dr Ahmad Yurianto  kemudian digelari dokter pembawa berita kematian.

Bahkan orang Jawa menyebutnya malah seperti burung gagak. Sebab suku terbesar di Indonesia ini punya kepercayaan, setiap muncul burung gagak di sekitar rumah, tak lama kemudian dipastikan ada warga setempat yang meninggal. Boleh tidak percaya, tapi dalam masyarakat Jawa kepercayaan itu masih melekat hingga kini. Padahal bisa saja burung gagak itu jenuh di sarangnya, sehingga keluar ramai-ramai dan bertengger di pohon kelapa sekedar untuk berkaok-kaok……..

Kini dr Ahmad Yurianto tak lagi jadi “burung gagak”. Apakah Prof. Wiku Adisasmito selaku penggantinya akan menjadi “burung gagak” juga? Enggaklah! Sebab dia hanya akan muncul untuk hal-hal yang penting sekali. Untuk update data Corona setiap hari silakan lihat di situs www.covid19.go.id.