WAHYU DEWANDARU

224 views
Resi Bisma benar-benar merasa dilecehkan. Tapi demi menjaga citra di mata publik, bersalamanlah dia dengan Prabu Dewasrani.

NEGRI Tunggulmalaya adalah negeri agraris yang makmur. Penghasilan utama pisang dan telur bebek saja. Kenapa rakyat negeri itu lebih memilih tanam pisang ketimbang padi? Dan kenapa pula rakyat negeri ini diwajibkan mendukung program TRI (Telur Rakyat Intensifikasi)? Karena dua komoditas itu telah berhasil mensejahterakan rakjat Tunggulmalaya, sehingga di negeri itu tak ada yang hidup di bawah kemiskinan. Bahkan baru saja dinyatakan oleh PBB, Tunggul Malaya bukan lagi bagian dari negara berkembang, karena penghasilan rakyatnya per KK Rp 10 juta sebulan tanpa potongan Pph 15 persen.

Rakyat Tunggulmalaya gemar menanam pisang, karena nyaris tanpa perawatan, tak perlu pupuk yang mahal, tak perlu matun (menyiangi rumput) pagi dan sore sebagaimana padi. Tinggal ditanam bibit, setahun kemudian sudah berbuah. Begitu juga pelihara bebek, mereka tak perlu pusing memasarkannya, karena hasil telurnya kemudian dibeli oleh Prabu Dewasrani untuk mensuplay usahanya yang semakin menggurita. Prabu Dewasrani memang punya 2 usaha andalan, yakni jualan pisang goreng rasa keju dan martabak telur.

“Eh, Kang Projo, sampeyan dengar nggak hasil survei Universitas “Semar Super” kemarin? Katanya elektabilitas Prabu Dewasrani sampai 70 persen untuk mendapatkan Wahyu Dewandaru.” Kata Tumeggung Prameya saat ngobrol di warung kopi.

“Oh, iya. Saya dengar begitu. Tapi buat apa sih, lembaga survey kompori orang yang sudah mapan, untuk hal-hal tidak produktip?” jawab Tumenggung Projo, sepertinya agak kecewa.

Ternyata opini Tumenggung Projo tidaklah meleset, sebab 3 bulan kemudian Prabu Dewasrani gelar konperensi pers bahwa ingin memperebutkan Wahyu Dewandaru. Padahal Betara Penyarikan selaku sekretaris kahyangan Jonggring Salaka  sudah menutup pendaftaran itu. Satu-satunya yang masuk nominasi hanya Resi Bisma dari Talkanda. Dia memang memenuhi syarat, di samping sudah sepuh (matang jiwa), dia jadi begawan sudah berpuluh-puluh tahun.