Klepon Justru Sangat Islami

173 views
Biar disebut Burung Gereja dan Emprit Kaji, kedua jenis burung ini sesungguhnya tak pernah beragama.

SEJAK ada medsos dan media online, energi bangsa banyak yang terbuang percuma hanya karena mengurusi hal yang remeh temeh. Hal yang sebetulnya hanya sekedar guyonan kelas K-5, bisa menjadi pembahasan nasional. Misalnya soal klepon yang tidak Islami, beberapa hari lalu ramai di media online, sampai MUI pun menanggapi. Padahal jika merujuk ke ilmu “othak-athik mathuk” (dipas-pasin), justru jajanan klepon itu sangat Islami. Bukankah warna hijau identik dengan Islam?

Sebetulnya yang memposting kali pertama si klepon itu orang iseng yang kurang kerjaan belaka. Celakanya, yang kali partama iseng juga banyak yang menanggapi. Akhirnya persoalan iseng itu menjadi serius, apa lagi MUI ikut juga berkomentar. Kata KH Asrorun Niam Sholeh dari komisi fatwa MUI, ini guyonan (joke) yang berbahaya.

Dia beralasan, soalnya jika “si klepon” ditanggapi secara serius, salah-salah bisa memecah umat. Karenanya polisi diminta segera bertindak, agar menjadi pembelajaran bahwa jangan seenaknya posting sesuatu di medsos. Jika dibiarkan bisa melebar jadi bahan saling ledek di tengah masyarakat.

Bisa juga, pengunggah “si klepon” itu sekedar ingin bikin guyonan satire. Ini sebagai kelanjutan  tersinggung atau protesnya masyarakat Sumbar karena ada Injil berbahasa Minang. Maka sekalian saja biar ramai, jajan pasar “si klepon” dibenturkan dengan kurma buah-buahan produk Timur Tengah. Dan ternyata berhasil, terbukti jagad maya menjadi heboh.

Guyon atau humor itu sangat manusiawi, orang Jawa menyebutnya sebagai rabuk jiwa, membikin orang awet muda, bahkan Insya Allah bikin panjang umur. Lebih-lebih di musim pandemi Corona yang menjadikan ekonomi sulit, bisa tertawa sudah merupakan kebahagiaan tersendiri. Tapi ingat, janganlah tertawa terbahak-bahak dengan bahu terguncang-guncang jika tanpa masker, karena –siapa tahu Anda terpapar– itu bisa membuka peluang virus Covid-19 menyebar ke mana-mana.