GANDAMANA SAYEMBARA (1)

182 views
Gandamana berjanji di depan Betara Penyarikan bahwa ikhlas tak mau jadi raja, pilih jualan martabak saja.

 RADEN Gandamana adalah ksatria pemberani dan jujur dari negeri Pancala, sayangnya dia termasuk sumbu pendek, mudah tersinggung. Dia pernah menghajar habis Bambang Kumbayana (Durna muda) hingga cacat permanen (hidung bengkok) gara-gara tidak sopan pada Prabu Drupada. Tapi meski gampang marah dan tangan cengkiling (suka tempeleng orang), masyarakat Solo sama sekali tidak takut. Justru di sini Gandamana malah dijadikan makanan. Dicampur sama singkong dan rempah-rempah lalu digoreng jadilah gondomono yang di Yogyakarta dan Purworejo disebut lentho.

Gandamana memang punya penyakit bludreg, darah tinggi atau ludira inggil kata dhalang Ki Manteb Sudarsono. Soalnya dari muda dia suka ngopi, makan kacang atom, tongseng kambing, thengkleng, emping mlinjo, durian montong. Untuk menetralisir dia sudah makan bawang mentah, mentimun bahkan es advokad, tapi tak ada kemajuan. Padahal dia calon pewaris tahta ayahnya, Prabu Gandabayu.

“Kamu kan calon pewaris tahta, kalau bludregan begitu, nanti kebijakanmu dalam memerintah justru hanya berdasarkan emosi saja.” Tegur sang ayah mengingatkan.

“Saya sudah mencoba pakai jamu tradisionil, tapi tak ada kemajuan. Habisnya thengkleng Solo dan durian montong itu lezat rama.” Jawab Gandamana ngeyel.

Sampailah kemudian dalam mimpi dia ketemu Betara Penyarikan, Sekjen Betara Guru di kahyangan Jonggring Salaka. Wayangnya pakai jubah, celana cingkrang dan jenggotan,  berperawakan sedang. Gandamana pikir dia seorang kadrun belaka, seorang penganjur khilafah tapi juga bela Pancasila.

“Oom siapa ya, kok malam-malam mencari saya?” tegur Gandamana.

“Masak antum lupa, ana kan Sekjen Jonggring Salaka.”

“ Oh, pukulun Betara Penyarikan? Habisnya pakai masker sih, jadi pangling,” jawab Gandamana dengan wajah tersipu-sipu.

Lalu Betara Penyarikan menjelaskan tentang maksud kedatangannya. Selain kabar keslametan juga menyampaikan kabar dari SBG (Sanghyang Betara Guru) soal peluang Gandamana menjadi raja Pancala. Kata SBG, karena penyakit bludreg Gandamana, tak mungkin jadi raja.Oleh karena itu, penyakit tersebut akan hilang dengan sendirinya manakala Gandamana ikhlas tidak berambisi jadi raja. Biarlah sosok lain yang mewarisi kekuasaan Prabu Gandabayu.