Pendidikan Kisruh, Menterinya Kemana?

546 views
Selelompok pelajar berkumpul di lereng bukit untuk mendapatkan signal untuk mengerjakan PR dalam program PJJ daring. Sulitnya mendapatkan sinyal di sejumlah daerah tidak diantisipasi Kemendikbud sebelumnya.

KARUT-MARUT  persoalan pendidikan seolah-olah dibiarkan tanpa solusi, sementara Mendikbud Nadiem Makarim bergeming di “singgasananya” di tengah keluh-kesah dan sorotan banyak pihak.

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) bagai “ranah tak bertuan”, dibiarkan “ngambang” tanpa solusi, padahal walau tidak melulu domain Kemendkbud, seharusnya bisa dikoordinasikan dengan kementerian atau instansi lain.

Ibarat menerbangkan pesawat, tutur pemerhati masalah sosial, Herman Suherman, mendikbud adalah pilot yang harus mengarahkan segenap kru agar pesawat bersama seluruh penumpangnya selamat sampai tujuan.

Seabrek persoalan muncul dalam pelaksanaan PJJ, mulai dari kesulitan  sejumlah daerah mengakses internet, ortu tidak mampu membelikan gawai atau kuota internet untuk anak-anaknya serta tidak semua ortu,  murid dan juga guru yang gagap teknologi.

Ekses-ekses yang muncul juga mencemaskan, misalnya siswi SMP di Batam yang menjual diri atau empat siswa SMA di Kutai Kertanegara, Kaltim  merampok toko emas guna mendapatkan uang untuk membeli gawai.

Sekelompok siswi ngumpul di emper-emper warung yang memiliki wifi  di wilayah Bogor demi mendapatkan sinyal. Masih beruntung, pemilik warung yang iba mengijinkan mereka mengerjakan PR daring di warungnya.

Lain lagi yang dialami Alodia Sinanta, siswi SMA di Desa Petir, Kec.Rongkop, Kab. Gn Kidul, DIY yang  bersama sekitar 20 rekannya harus menapak jalan di perbukitan guna mendapatkan signal. Banyak kisah lain, seperti siswa yang harus naik pohon, berjalan ke desa tetangga atau  menyusuri kali untuk mendapatkan signal.

Fenomena Gunung Es

Aksi kriminalitas, KDRT, ortu atau anak mereka yang frustrasi atau depresi, mengalami pelecehan saat mencari signal, bahkan kemungkinan bunuh diri akibat kesulitan mengikuti PJJ daring bisa jadi telah menjadi fenomena “gunung es” yang cuma tampak di permukaan. Siapa yang perduli?