PJJ atau Buka Sekolah, Sama-sama Berisiko

170 views
Pembelajaran Jarak Jauh khususnya daring menuai polemik dan dikeluhkan orang tua, murid dan menjadi beban guru, sementara pembukaan kembali sekolah-sekolah juga rentan tehadap pandemi Covid-19.

PEMBELAJARAN Jarak Jauh (PJJ) yang diberlakukan sejak Maret lalu sarat dengan persoalan dan dinilai tidak efektif, karena kebijakan ini sama sekali tidak “membumi”, mengabaikan berbagai faktor.

Persoalan PJJ tak hanya soal akses internet yang belum merata terutama di wilayah luar Jawa, orang tua  yang tidak mampu membelikan gawai atau kuota internet, orang tua, guru dan anak didik yang gaptek, juga kurikulum PJJ yang belum disesuaikan.

Komisioner KPAI Retno Lystiarti mengingatkan, kurikulum yang ada untuk situasi normal saja (luring atau tatap muka di sekolah) terlalu berat bagi anak didik, apalagi diberlakukan dalam PJJ yang sifatnya darurat.

Tidak semua guru mampu menguasai beban materi ajaran yang harus diberikannya selama PJJ, begitu pula ortu dan  anak didik, sehingga muncul keluhan disana-sini, juga membuat frustrasi anak didik.

Pihaknya, lanjut Retno, telah berkali-kali mendesak agar kemendikbud membuat kurikulum PJJ yang disesuaikan dengan situasi darurat dengan memetakan disparitas atau kesenjangan di masing-masing daerah.

Hal senada disampaikan Ketua Komisi X DPR Syaiful Hadi yang menilai PJJ tidak efektif selain akibat persoalan akses internet, kondisi ekonomi orang tua  murid, juga karena buruknya koordinasi dan komunikasi antara kemendikbud pusat dengan jajarannya di daerah.

Kini, atas desakan ortu dan juga anak-anak mereka atau atas inisiatif para guru dan kepala sekolah, sejumlah sekolah seperti di Bekasi, Bengkulu,  Pariaman, Surabaya dan di banyak tempat lainnya mulai mencoba-coba kembali pembelajaran tatap muka di sekolah-sekolah.

Orang tua murid mengeluhkan PJJ yang sangat membebani mereka dengan beragam alasan,  mulai dari soal kompetensi, keterbatasan waktu, kondisi rumah dan keluarga dan seabrek persoalan lainnya.

Sementara bagi anak didik, selain jenuh di rumah, kesulitan menyerap pelajaran melalui daring, baik akibat kendala internet, gawai, suasana rumah dan persoalan-persoalan lainnya.