Pendidikan Mengenakan “Kaca Mata Kuda”

183 views
Beberapa siswa di Simalungun, Sumut, beberapa Km menyusuri jalan setapak menuju perbukitan, berburu sinyal internet untuk mnyelesaikan PR program PJJ dari sekolah. Siapa yang menjamin keamanan mereka?

PELONGGARAN aturan yang membolehkan kembali pembukaan sekolah-sekolah atau tatap muka dinilai sangat berisiko, mengingat anak-anak rentan terpapar virus Corona (SARS-CoV2) penyebab Covid-19.

Berdasarkan catatan Satgas Penanganan Covid-19, ada 94 kabupaten/ kota di zona hijau dan 183 kabupaten/kota di zona kuning atau berarti sekitar 53,7 persen atau lebih separuh sekolah boleh dibuka.

“Dibolehkan, tapi tak diwajibkan. Jika kepala daerah, dinas-dinas pendidikan dan kanwil kemenag di daerah memberi izin, tapi kepala sekolah, komite sekolah dan para rang tua tidak siap, PJJ terus berlanjut. Ini Hak prerogatif mereka, “ kata Mendikbud Nadiem Makarim di Jakarta, Jumat (7/8).

Faktanya, SKB Kemendikbud, Kemendagri, Kemenkes dan Kemenag tertanggal 13 Juli 2020 itu menuai polemik, bahkan ada juga yang menuding pemerintah mengalihkan tanggung jawabnya dengan menyerahkan keputusan ke daerah.

Bisa terjadi tarik-menarik kepentingan, misalnya jika kepala daerah memutuskan sekolah harus dibuka, sebaliknya dinas-dinas pendidikan menolak, atau komite sekolah, juga orang tua murid bersikap sendiri-sendiri terkait pembukaan sekolah atau meneruskan PJJ.

Pembelajaran Jarak Jauh sendiri sarat persoalan, mulai dari tidak seluruh wilayah terkoneksi baik dengan internet sampai banyak  orang tua tak mampu membelikan gawai atau paket kuota buat anak mereka.

Persoalan lainya, guru, orang tua dan murid sangat terbebani PJJ daring, selain tidak semua memiliki kompetensi memadai, kurikulum yang ada juga belum disesuaikan dengan situasi darurat PJJ, belum lagi  kesibukan orang tua, kejenuhan anak-anak di rumah dan segudang persoalan lainnya.

Sebaliknya, membiarkan anak ke sekolah, juga berisiko tinggi terpapar  Covid-19, karena bisa saja terjangkit saat menuju atau pulang  sekolah, siapa yang mengawasi (terus) mereka, juga apa kah prasarana dan prasarana sekolah siap memenuhi protokol kesehatan?