Pekan Menyusui Se-Dunia, Dompet Dhuafa Ajak Masyarakat Lestarikan Bumi Guna Melahirkan Generasi Sehat

198 views

JAKARTA – Setiap tahunnya, dunia memeringati pekan ASI pada 1 hingga 7 Agustus. Hal tersebut bermula dari gagasan tentang pentingnya peran ASI, dalam tumbuh kembang kesehatan anak. Kemudian juga memiliki segudang manfaat bagi kesehatan fisik maupun emosional ibu dan bayi. Memeringati “World Breast Feeding Week” atau Pekan Menyusui Se-dunia, Dompet Dhuafa menyelenggarakan tayang bincang daring dengan tema “Support Breastfeeding for a Healthier World, Menyusui=Menyelamatkan Bumi?” Untuk memberikan wawasan kepada masyarakat, khususnya keluarga muda dari kalangan millenials yang langsung disiarkan melalui Chanel Youtube DD TV, pada Rabu (12/8)

Pada Rangkaian kegiatan tayang bincang Pekan ASI Sedunia, menghadirkan berbagai pembicara dr. Utami Roesli, Sp.A, MBA, IBCLC, FABM, Pendiri Sentra Laktasi Indonesia (SELASI), Profesor DR. Euis Sunarti M.Si, Guru besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Bidang Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga dan Pimpinan Perhimpunan Penggiat Keluarga (GiGa) Indonesia, Khalisah Khalid (Wahana Lingkungan Hidup) Indonesia (WALHI) dan Dr. Yeni Purnamasari MKM (GM Kesehatan Dompet Dhuafa). Bersama audiens dari berbagai kalangan, Dompet Dhuafa terus mendukung gerakan pemerintah dalam membangun kepedulian maupun kesadaran semua pihak, untuk mendukung keberlangsungan pemberian ASI.

“Banyak muncul individu yang mempromosikan kebaikan menyusui. Ini merupakan sebuah tantangan dan harapan untuk kita. Setiap orang dapat menjadi agen perubahan. Harus ada dukungan secara struktural dari pemerintah atau dari negara. Untuk memastikan individu tersebut memperluas gerakannya, agar terjadi perubahan yang signifikan, jadi harus didukung oleh kebijakan negara,” ucap Khalisah Khalid, selaku perwakilan dari (Wahana Lingkungan Hidup) Indonesia (WALHI).

Akibat pandemi COVID-19, di Indonesia akses layanan esensial seperti konseling menyusui di rumah sakit, klinik kesehatan, dan melalui kunjungan ke rumah, serta Rumah Sakit Sayang Bayi telah terganggu. Terdapat satu dari dua bayi berusia di bawah enam bulan yang mendapatkan ASI eksklusif, dan hanya sedikit lebih dari lima persen anak yang masih mendapatkan ASI pada usia 23 bulan. Artinya, hampir setengah dari seluruh anak Indonesia tidak menerima gizi yang mereka butuhkan selama dua tahun pertama kehidupan. Lebih dari 40 persen bayi diperkenalkan terlalu dini kepada makanan pendamping ASI, yaitu sebelum mereka mencapai usia enam bulan.