Banjir di Korea Utara, 22 Meninggal dan 17 Ribu Rumah Hancur

Ilustrasi banjir di Korea/ foto BBC Indonesia

KORUT – Sedikitnya 22 orang meninggal dan empat lainnya hilang dalam banjir dahsyat di Korea Utara, dan hampir 40 ribu hektar panen rusak dan 17 ribu rumah hancur atau rusak.

Kantor berita pemerintah Korea Utara KCNA, Jumat (14/8/2020), melaporkan sejumlah kerusakan akibat banjir.

“Banyak ruas jalan, jembatan dan rel kereta api rusak Bendungan pembangkit listrik roboh dan ada kerusakan parah di berbagai sektor ekonomi nasional,” lapor KCNA.

Sebelumnya Korea Selatan baru-baru ini dilanda hujan selama 49 hari berturut-turut, menimbulkan banjir dan tanah longsor yang menewaskan puluhan orang.

Korea Utara terutama sangat rentan terhadap banjir. Kurangnya infrastruktur yang memadai dan meluasnya deforestasi, yang sebagian diakibatkan oleh penebangan pohon untuk bahan bakar atau kayu bakar, dan pembukaan lahan untuk pertanian.

Banjir ini terjadi ketika Korea Utara berupaya mencegah meluasnya perebakan virus corona. Bulan lalu Korea Utara memberlakukan kebijakan lockdown di sekitar kota Kaesong setelah mengingatkan bahwa seorang pembangkang dari Korea Selatan mungkin telah membawa virus itu melintasi perbatasan kedua negara.