DURMAGATI SUWARGA (2)

203 views
Durmagati sok pahlawan, mencoba membendung amukan Werkudara. Akhirnya masuk Taman Pahlawan beneran.

MENYAMBUT Hut ke-45 Ngastina, Istana Gajahoya menyelenggarakan dengan cara sederhana saja, maklum musim Corona. Tak ada malam tirakatan, karena rakyat Ngastina banyak yang kesrakat (miskin) dadakan. Pidato kenegaraan yang biasanya bisa satu jam lebih, kali ini hanya 30 menit saja. Itu pun yang bikin bukan Prabu Jokopit sendiri, melainkan Patih Haryo Sengkuni.

Lagi-lagi isi pidato dikritisi Durmagati. Dalam kondisi ekonomi Ngastina minus 7,5 persen, kok dengan jumawa tahun 2021 mendatang pertumbuhan ekonomi negara dipatok meningkat sampai 7 persen pula. Tentu saja ini ditertawakan Durmagati adik sendiri. Dia menyebutnya tim ekonomi Prabu Jokopit sebagai tim kocluk! Itu istilah modifikasi “dungu” yang sudah dipatenkan oleh Rocky Gerung.

“Ketika banyak wayang di-PHK, ketika industri tak bergerak, sementara RAPBN tak mencapai target, kok bisa-bisanya mematok pertumbuhan ekonomi 7 persen. Ini sungguh tidak realistis.” Kata Durmagati sambil berkacak pinggang.

“Bisa saja kan didoping dengan pinjaman luar negeri?” pancing pers.

“Utang Ngastina sudah seleher, masak mau bikin utang lagi?”

Tapi begitulah, sepedas apapun kritikan Durmagati, Prabu Jokopit membiarkan saja, sebab jika sampai diproses hukum, akan ditertawakan dalang sekalian wiyaga penabuh gamelan. Hari gini kok masih ada yang membungkam wayang berpendapat. Celakanya, sementara Prabu Jokopit mendiamkan saja para pembully-nya, tapi aparat sok bertindak sigap. Yang ngritik Jokopit terlalu keras langsung diciduk. Jika ada pengecualian ya Durmagati itu tadi, karena dia orang dekat atau sentana dalem Istana.

Tiba-tiba ada berita mengejutkan lewat mulut Patih Sengkuni bahwa di sela-sela upacara bendera Hut ke-45 di halaman Istana Gajahoya, akan diserahkan pula bintang Mahaputra Ngayawara untuk Durmagati. Pemberian tanda jasa ini penting, karena Durmagati adalah satu-satunya pengeritik paling konsisten. Dia tetap  berani mengeritik meski sudah berada dalam bunderan kekuasaan.