Strategi Dompet Dhuafa Memutus Mata Rantai Tengkulak Petani Kopi

JAKARTA- Lahir dari spirit mengangkat kesejahteraan ekonomi para petani kopi dampingan Dompet Dhuafa, kemudian hasil kopi dampingan diolah menggunakan teknologi “hot air roasting” menghasilkan kopi berkualitas, mencipatakan Madaya cofee. Dengan bahan kopi pilihan yang diambil dari nusantara, seperti Kemloko, Gayo, dan Kahaya.

Berbicara program ketahanan pangan yang sedang digalakkan oleh Dompet Dhuafa, Direktur Karya Masyarakat Mandiri Dompet Dhuafa (KMM-DD), Jodi Iswanto menjelaskan strategi apa yang dilakukan dalam memutus mata rantai tengkulak di petani kopi, sebetulnya bukan hanya tentang kopi, tetapi ada gula, sayuran, namun terkadang didaerah tengkulak bisa dianggap pahlawan.

“Tengkulak itu di daerah bisa dianggap pahlawan, karena pada saat masyarakat butuh uang cash, biasanya mereka ada, tapi yang salah tengkulak memanfaatkan situasi tersebut, seperti penerapan bunga tinggi, pembelian yang tidak fair kepada petani, nah itu yang harus dilawan dalam hal ini,” ucapnya dalam online talkhow ZTV dengan tema Nikmat Pekat Kopi, Bagaimana Nasib Petani, Rabu (9/9).

Ia menambahkan, salah satu teknik yang dilakukan Dompet Dhuafa yaitu membuat varian baru yang tidak dimainkan oleh tengkulak. Contohnya kopi, karena kita memang ambil untuk kualitas kopi terbaik, dan tengkulak juga tidak kuat untuk beli karena harganya mahal.

“Jujur saja kopi madaya kita beli dari petaninya sendiri itu bukan lebih murah malah lebih mahal dari kondisi, maka kita gak bisa ekspor karena harganya terlalu tinggi,”ucapnya menjelaskan.

Seperti diketahui, Rumah produksi kopi dan kafe Madaya berada di Kawasan Zona Madina Dompet Dhuafa Jampang, Kemang, Bogor, diharapkan menjadi tujuan kuliner maupun wisata edukatif bagi masyarakat umum. Mereka dapat menikmati beragam kopi yang dihasilkan petani komunitas kopi binaan Dompet Dhuafa di kafe Madaya.