Preman Bantu Tegakkan Protokol Kesehatan?

131 views
Wacana pemanfaatan preman pasar untuk mendisplinkan warga mematuhi protokol kesehatan menuai pro-kontra.

WACANA pelibatan preman untuk mengawasi warga agar mematuhi protokol kesehatan seperti mengenakan masker guna mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 menuai polemik.

“Di pasar-pasar ada preman-preman untuk membantu mendisiplinkan  warga, tentu pelaksanaannya akan terus dipantau TNI dan Polri agar sesuai peraturan dan mengedepankan sikap humanis, “ ujar Wakil Ketua Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional Komjen Pol. Gatot Eddy Pramono.

Menpolhukam Prof. Mahfud MD menyebutkan, istilah preman dipopulerkan di era penjajahan Belanda tempo doeloe, berasal dari kosa kata “vrijman” (baca: freman), artinya “orang bebas”, bukan pegawai pemerintah, sehingga tidak semua preman berperangai buruk.

Namun dalam kenyataannya, tentu saja preman pasar berbeda sekali artinya dengan istilah vrijman zaman Belanda yang disebut oleh Mahfud MD tersebut.

Preman pasar biasanya orang-orang yang berkeliaran di sekitar pasar tradisional, bisa tinggal di sana atau di tempat lain, mengelola parkir (liar), memalak para pedagang berdalih menjaga keamanan dan makan minum gratis di warung-warung  sekitarnya.

Di pasar ada kepala pasar di bawah Pemda setempat beserta jajarannya termasuk Satpol PP atau petugas sekuriti yang juga  memungut retribusi, namun kadang-kadang mereka berkolaborasi, bagi-bagi pemasukan atau kalah gertak atau pengaruh dari para preman.

Tentu saja kehadiran para preman di pasar-pasar memberatkan pedagang, karena mereka harus membayar pungutan resmi dan juga tidak resmi, namun semua orang sudah sama-sama tau, tidak pernah juga dipersoalkan, apalagi dibasmi.

Masalahnya, apa pantas jika polisi yang notabene adalah institusi penegak hukum berkolaborasi dengan kelompok preman yang secara de jure berprofesi sebagai pelaku kriminil (pemalak)?

Kontra Produktif

Pengamat Kebijakan Publik Agus Pambagio mencemaskan, pemanfaatan preman untuk membantu penegakan disiplin warga malah kontra produktif dan bisa memunculkan ekses-ekses tak terduga.