PSBB DKI, “Pengantar” Menuju Resesi?

119 views
Pemberlakuan kembali PSBB di DKI Jakarta mulai 14 Sept. dikhawatirkan bisa memebuat proyeksi ekonomi lebh rendah dari yang dihitung sebelumnya.

RESESI ekonomi diperkirakan tak terelakkan lagi, terlebih pasca diberlakukannya kembali Pembatasan Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta mulai 14 Sept. dalam upaya menekan angka korban Covid-19 yang terus melonjak.

“Pengetatan kembali PSBB di DKI Jakarta membuat proyeksi pertumbuhan ekonomi pada kuartal III nanti bisa berada di batas bawah (lower end) dari yang diproyeksikan sebelumnya “ kata Menkeu Sri Mulyani dalam keterangan pers virtual, Selasa (15/9).

Menurut catatan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2020 masih positif     ( 2,9 persen) walau turun tajam dari lima persen pada 2019, lalu terkontraksi menjadi minus 5,32 persen selama kuartal II dan kuartal III diproyeksikan pada kisaran 0 sampai minus 2,1 persen.

Sri Mulyani memperkirakan, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III bisa jadi lebih buruk dari yang diproyeksikan semula, walau ia tetap berharap lebih baik, karena PSBB kali ini tak seketat sebelumnya.

Di awal PSBB Jakarta (mulai 10 April), hampir seluruh kegiatan masyarakat terhenti, sedangkan pada PSBB yang baru (mulai 14 Sept.), transportasi tetap berjalan, sementara kantor-kantor tetap buka walau kapasitasnya dibatasi.

Disebut resesi ekonomi jika dalam dua kuartal berturut-turut terjadi  pertumbuhan minus, berarti jika pada kuartal III nanti minus lagi, Indonesia memasuki fase resesi, karena pada kuartal II sudah minus 5,32 persen.

Pemerintah sejauh ini sudah menggelontorkan Rp695,2 triliun bagi Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) termasuk perlindungan sosial seperti paket sembako, bantuan langsung tunai (BLT) dan lainnya, namun nyatanya belum mampu mendongkrak daya beli masyarakat.

PEN yang diharapkan menyangga daya beli masyarakat kelas bawah  (40 persen dari total populasi) yang anjlok akibat imbas Covid-19, ternyata hanya berkontribusi 17,73 persen dari pengeluaran,  sedangkan kelompok kelas atas (20 persen) 45,49 persen dan kelas menengah (40 persen) 36,78 persen).