AJI PANCASONA (1)

731 views
Betara Narada menegur Subali, kenapa ajian Pancasona dioperkan kepada Prabu Dasamuka?

DI Indonesia Pancasila dijadikan ajian bersama untuk seluruh rakyat, dari Sabang sampai Merauke. Dengan ajian tersebut NKRI bisa terjaga, karena segenap rakyatnya menghormati perbedaan agama, budaya dan tradisi setiap suku bangsa. Sayangnya, kemudian ada sekelompok anak bangsa yang tak tahu sejarah, berusaha untuk menafikan Pancasila, karena ingin menjadikan Indonesia sebagai negara agama. Tentu saja dapat perlawanan.

Pada dunia perwayangan, aji Pancasona juga menjadi idola. Ajian tersebut menjadi perburuan sejumlah tokoh. Bedanya adalah, bila Pancasila menjadi milik bersama, Pancasona pemilikannya secara personal. Pancasila memang mirip dengan Pancasona, punya kesaktian yang sama, yakni kelestarian. Di Indonesia Pancasila mampu melestarikan NKRI dan di jagad perwayangan, siapa memiliki ajian tersebut akan lestari tak bisa mati! Terkena bencana apapun, sepanjang ketemu tanah, akan hidup kembali.

Alkisah, kahyangan Jonggring Salaka mendadak dilanda musim panas. Suhu udara mencapai 40 drajat Celsius. Istana Bale Marcakunda meski sudah dipasangi AC Wasikin di setiap sudut ruangan, tetap saja gerah. Betara Guru, Betara Narada dalam pertemuan terpaksa ngliga (tanpa baju), saking gerahnya.

“Kakang Narada, kenapa gerangan kahyangan kok menjadi panas sedemikian rupa. Apakah api kawah Candradimuka bocor, sehingga mempengaruhi udara di sini?”

“Bukan begitu adi Guru. Berdasarkan penyelidikan kami, panasnya udara di Jonggring Salaka akibat dampak ulah Subali di pertapan Sunyapringga. Dia bertapa dengan keinginan untuk memiliki ajian Pancasona.”

Betara Guru pun terkaget-kaget. Masak umat perwayangan mendambakan ajian Pancasona, itu kan bukan kapasitasnya. Sebab bila dia sampai memiliki ajian itu, takkan pernah mati. Itu kan sama saja menyaingi para dewa. Seperti sekarang ini, tak ada korban Covid-19 di Jonggring Salaka, karena para dewa memang terbebas dari kematian. Kena sih kena, tapi hanya batuk pilek melulu, disertai sesek napas kadang-kadang.