AJI PANCASONA (1)

764 views

“Subali. Jika kamu memiliki ajian Pancasona, apakah siap berumah tanpa keramik dan pergi ke mana-mana harus nyokor tanpa sepatu?” Betara Nara lagi-lagi mengetes kemampuan Subali mirip fit and proper tes di DPR.

“Lho, apa hubungannya aji Pancasona dengan lantai keramik dan sepatu pukulun?” Subali bertanya terheran-heran.

Betara Narada pun menjelaskan segala kelebihan dan kelemahan aji Pancasona. Pemiliknya baru terbebas kematian, asalkan selalu bersentuhan dengan tanah. Padahal di abad milenial sekarang, rumah semuanya pakai keramik dan orang selalu pakai sepatu dan sandal jepit Swalow. Itu ancaman bagi pemilik ajian Pancasona.

Di samping itu, ajian Pancasona tak boleh disalah-gunakan. Ajian itu hanyalah untuk kemaslahatan dunia, tapi tak boleh untuk mencari duniawi. Karenanya jika sudah memiliki ajian Pancasona, tak elok menjadi anggota DPR dan Kepala Daerah. Soalnya di era gombalisasi ini godaan anggota dewan kepala daerah begitu banyak.

“Ya sudah pukulun, saya siap berumah lantai tanah dan ke mana-mana nyokor asalkan memiliki aji Pancasona.” Jawab Subali serius.

“Nah, gitu dong! Intinya, pemilik ajian Pancasona harus mampu memayu hayuning bawana.” Kata Begawan Narada lagi.

Dengan mengheningkan cipta, sementara tangan Narada-Subali berjabatan, ajian Pancasona ditransver secara batin. Saat pulang Betara Narada diberi amplop segepok, katanya sekedar uang transport. Patih kahyangan itu menerimaya dengan malu-malu, menoleh ke kanan ke kiri takut ada yang melihatnya. Malu dong, Betara Narada kok menerima gratifikasi. (Ki Guna Watoncarita).