Pejabat DKI Bertumbangan

Gubernur Anies Baswedan melepas jenazah Sekda DKI Saefullah. Tak urung banyak menuai kecaman.

KULU nafsin dzaikatul maut, begitu firman Allah Swt telah menggariskan. Setiap yang hidup akan mati. Dan kematian itu datangnya kapan saja, tanpa bisa dideteksi. Di mana, kapan dan bagaimana penyebabnya, semua menjadi rahasia Sang Pencipta. Manusia sebagai umat yang diciptakan, tinggal menjalani saja. Kapan dilahirkan dan kapan pula dimatikan, manusia tak bisa pesan tempat.

Semalam (19/09) Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan meninjau lokasi pemakaman korban Covid-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur. Beliaunya  berdialog dengan para penggali makam, sementara di latar belakang tampak makam-makam baru. Ada yang masih berupa lobang menganga, lainnya dalah ratusan makam baru, sebagai tempat peristirahatan terakhir para korban Corona.

Kepada Gubernur para petugas bercerita, seharian kemarin telah memakamkan 45 jenazah. Hari-hari sebelumnya rata-rata sekitar 30 jenazah. Malam itu mereka sempat bertemu Gubernur, karena sengaja belum pulang, khawatir jika tiba-tiba ada perintah menggali lobang baru, karena banyaknya korban Covid-19 yang gagal disembuhkan.

Hingga hari ini, korban tewas akibat Corona di DKI Jakarta tercatat sebanyak 1.527 orang. Korbannya bukan saja rakyat biasa, tapi sejumlah pejabat DKI itu sendiri juga bertumbangan. Setidaknya ada 3 orang, yakni Sekda Saefullah, Lurah Meruya Selatan Ubay Hasan, dan Camat Kelapa Gading Hermawan. Delapan pejabat lainnya menjalani isolasi mandiri karena juga positif terpapar Covid-19.

Sesuai dengan prosedur pemakaman korban Covid-19, dari Rumah Sakit langsung ke TPU. Tidak boleh disemayamkan di rumah, keluarga dekat pun dibatasi dua orang. Maksudnya adalah, untuk mencegah terjadinya kluster-kluster baru. Sebab dengan kondisi sekarang saja tim medis dan aparat sudah kecapekan.

Maka ketika Gubernur Anies menggelar upacara pelepasan jenazah Sekda Saefullah dari Balaikota ke TPU Cilincing, banyak menuai kecaman. Bagaimana mungkin, aturan dibuat oleh Gubernur, tapi kemudian dilanggar sendiri olehnya. Bagaimana rakyat bisa berdisiplin, jika pihak Pemprov DKI sengaja melanggar aturan bikinannya?

Sebetulnya Gubernur Anies Baswedan sudah capek mendisplinkan warganya untuk menanggulangi Covid-19. Sudah diberlakukan denda Rp 250.000,- untuk yang sengaja tak bermasker. Bahkan ditakut-takuti dengan tampilan sejumlah peti mati di berbagai tempat,  kagak ngaruh. Begitu juga ketika ada warga yang dipaksa masuk peti mati sebagai sanksi pelanggaran masker, tapi  tidak ngefek.

Agaknya mereka baru kapok ketika sudah menjadi korban Covid-19 itu sendiri. Bisa kapok karena menyadari akan ketololannya selama ini, bisa pula kapok karena kadung masuk TPU Pondok Ranggon sebagai korban Covid-19. Tapi ini kan penyesalan yang terlambat.

Tak hanya DKI Jakarta, di tempat lain sejumlah Kepala Daerah juga meninggal sebagai korban Corona. Misalnya, Aptripel Tumimomor, Bupati Morowali Utara Sulteng (April 2020), Syahrul Walikota Tanjung Pinang (April 2020), Najmi Adhani Walikota Banjarbaru, Kalsel (Agustus 2020), Edward Antony, Wakil Bupati Waykanan Lampung (Agustus 2020), Nur Ahmad Syaifuffin Plt Bupati Sidoarjo Jatim (Agustus 2020).

Sebagai pejabat mereka memang selalu berada di garis depan, potensi terpapar Corona sangat besar. Mereka yang mengatur bagaimana menanggulangi Corona, tapi karena takdir Allah menentukan begitu, dia sendiri harus ikut tumbang ketika melawan Corona bersama rakyat.

Paling ironis dan tragis adalah, ketika diberitakan Arief Budiman Ketua KPU terpapar Corona, di kolom komentar justru mayoritas (95 persen) nyukurin. Netizen jadi membecinya, gara-gara mengizinkan pentas musik di saat kampanye Pilkada 9 Desember mendatang. Padahal sebagai manusia beriman dan mengaku Pancasilais, ketika mendengar orangsakit seharusnya mendoakan cepat sembuh, bukannya malah menyumpahi agar cepat mati. Boleh tidak suka pada seseorang, tapi ketika yang dibenci itu meninggal sebaiknya diam saja ketimbang komentar negatip menambah dosa. (Cantrik Metaram)