Pejabat DKI Bertumbangan

145 views

Sebetulnya Gubernur Anies Baswedan sudah capek mendisplinkan warganya untuk menanggulangi Covid-19. Sudah diberlakukan denda Rp 250.000,- untuk yang sengaja tak bermasker. Bahkan ditakut-takuti dengan tampilan sejumlah peti mati di berbagai tempat,  kagak ngaruh. Begitu juga ketika ada warga yang dipaksa masuk peti mati sebagai sanksi pelanggaran masker, tapi  tidak ngefek.

Agaknya mereka baru kapok ketika sudah menjadi korban Covid-19 itu sendiri. Bisa kapok karena menyadari akan ketololannya selama ini, bisa pula kapok karena kadung masuk TPU Pondok Ranggon sebagai korban Covid-19. Tapi ini kan penyesalan yang terlambat.

Tak hanya DKI Jakarta, di tempat lain sejumlah Kepala Daerah juga meninggal sebagai korban Corona. Misalnya, Aptripel Tumimomor, Bupati Morowali Utara Sulteng (April 2020), Syahrul Walikota Tanjung Pinang (April 2020), Najmi Adhani Walikota Banjarbaru, Kalsel (Agustus 2020), Edward Antony, Wakil Bupati Waykanan Lampung (Agustus 2020), Nur Ahmad Syaifuffin Plt Bupati Sidoarjo Jatim (Agustus 2020).

Sebagai pejabat mereka memang selalu berada di garis depan, potensi terpapar Corona sangat besar. Mereka yang mengatur bagaimana menanggulangi Corona, tapi karena takdir Allah menentukan begitu, dia sendiri harus ikut tumbang ketika melawan Corona bersama rakyat.

Paling ironis dan tragis adalah, ketika diberitakan Arief Budiman Ketua KPU terpapar Corona, di kolom komentar justru mayoritas (95 persen) nyukurin. Netizen jadi membecinya, gara-gara mengizinkan pentas musik di saat kampanye Pilkada 9 Desember mendatang. Padahal sebagai manusia beriman dan mengaku Pancasilais, ketika mendengar orangsakit seharusnya mendoakan cepat sembuh, bukannya malah menyumpahi agar cepat mati. Boleh tidak suka pada seseorang, tapi ketika yang dibenci itu meninggal sebaiknya diam saja ketimbang komentar negatip menambah dosa. (Cantrik Metaram)