Cuma Mau Enak Ogah Anak

Bayi lucu yang dibuang emaknya. Si emak yang lumayan "tanggungjawab" meninggalkan surat wasiat mengharukan.

BERITA memilukan baru saja terdengar dari Jl. Percetakan Negara III, Rawasari, Jakarta Pusat. Ketika sebuah klinik pengguguran bayi digerebek polisi, ditemukan fakta 32.760 janin dibunuhnya sejak tahun 2017, karena tak dikehendaki oleh sang ibu. Sementara Indonesia Police Watch (IPW) juga pernah mencatat, tahun 2017 saja di Indonesia telah dibuang bayi-bayi merah sebanyak 178. Ini semua adalah muara dari perbuatan orangtua si bayi yang hanya mau enak tetap ogah anak!

Gara-gara orang yang hanya punya nyawa tapi tak punya jiwa dan hati, tega menghilangkan ribuan calon generasi pewaris bangsa. Ini memang sungguh memilukan. Tapi lebih memilukan lagi nasib bayi-bayi yang sudah jadi, begitu lahir langsung dibuang oleh ibu sibayi, karena si ayah hanya doyan “nyetrom” tak mau tanggungjawab. Beruntung jika segera ketahuan dan berhasil diselamatkan. Karena banyak juga yang keburu mati kedinginan, bahkan ada yang kadung dibuat rebutan anjing.

Dengan terbongkarnya klinik pengguguran bayi di Rawasari tersebut, berarti Pemprov DKI kehilangan potensi jumlah penduduknya mencapai 11.096.084 jiwa  pada tahun 2020 atau 2021 mendatang. Sebab minus janin-janin yang diaborsi di Rawasari tersebut, jumlah penduk Jakarta taun 2019 saja sudah mencapai 11.063.324 jiwa. Padahal bagi kalangan ahli kependudukan, ledakan jumlah penduduk itu sebagai bonus demografi. Dan Gubernur Anies Baswedan pun batal menerima bonus tersebut.

Terlepas dampak sosialnya bagi ibu si bayi, jika 32.760 janin itu dibiarkan jadi orang, siapa tahu di tahun 2055 nanti dari mereka ini ada juga yang jadi gubernur, politisi, menteri, pengusaha bahkan sekedar tukang ojek online. Dan dokter berikut para pembantu aborsi itu telah berdosa, karena memutus rentetan sejarah anak manusia.

Lebih berdosa lagi tentunya para ibu yang tega membuang bayi-bayi mereka. Karena bayi-bayi itu sudah memiliki jiwa. Jika memang kelahirannya tak dikehendaki, begitu lahir serahkan saja ke rumah-rumah sosial. Pasti akan diurus, ketimbang hanya dibuang di tempat sampah.

Memang ada juga sih bayi-bayi itu dibuang di depan rumah orang, dengan harapan segera ditolong oleh pemilik rumah. Ada juga ibu si bayi mengenal pasti siapa pemilik rumah, dengan harapan anak yang dibuangnya akan berada dalam asuhan keluarga yang tepat. Bahkan ketika bayi itu dibuang dalam kardus, ada pula yang sudah dilengkapi semua perlengkapan bayi.

Ini terungkap dari surat-surat wasiyat yang ditinggalkan sang ibu. Misalnya bayi di Kediri, ibu si bayi meninggalkan surat wasiat begini: Assalamualaikum.. Mba Meri amal sholih ramut (rawat) dan jaga bayi saya mba. Rawat dan beri kasih sayang seperti mba meramut Iqbal. Besarkan dia dalam jamaah. Maaf jika saya merepotkan. Alhamdulillahijaza killahuqoiro.

Dan lebih mengharukan surat wasiyat ibu bayi yang dibuang di Bekasi, “Untuk ibu panti, tolong rawat anak saya ya karena keadaan yang tidak memungkinkan saya terpaksa menaruh anak ini di sini. Mohon maaf jika caranya kurang baik. Tolong jaga dan rawat anak ini, saya sangat mengasihinya. Saya hanya ingin anak saya dapat hidup lebih baik dan layak. Nama anak ini, Grace. Grace anakku tumbuh jadi anak yang baik ya, kamu pasti akan jadi anak baik, kamu harus jadi wanita yang kuat, baik, pintar dan berguna. Dimanapun kamu berada, kami akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu nak. Kami menyayangimu.

Perhatikan, ditilik dari lirik kalimat dalam suratnya, mereka adalah ibu-ibu yang berpendidikan. Bahkan yang di Kediri, si ibu sebetulnya perempuan yang solehah. Tapi namanya juga manusia yang tak pernah luput dari kesalahan, meski imannya sudah tebal, begitu digoda setan lulusan S2 Amerika, ya jebol juga. Lalu terjadilah perbuatan yang terkutuk itu.

Menurut catatan IPW di tahun 2018, sepanjang 2017 ada 178 bayi yang baru dilahirkan dibuang di jalan. Jumlah ini naik 90 kasus dibanding tahun 2016, yang ada 88 bayi yang dibuang. Dari 178 bayi itu, sebanyak 79 bayi di antaranya ditemukan tewas dan 10 bayi (janin) yang belum masanya lahir dipaksakan untuk dikeluarkan atau digugurkan dan dibuang di jalanan. Ibu dan bapaknya hanya mau enak, tapi ogah ketika jadi anak. (Cantrik Metaram).