AJI PANCASONA (2)

Prabu Dasamuka berjanji pada Resi Subali abhwa akan menjadi wayang baik-baik setel;ah memiliki ajian Pancasona.

TERNYATA Subali memang wayang beruntung. Setelah memperoleh ajian Pancasona, dia memperoleh bonus bidadari dari kahyangan bernama Dewi Tara. Mungkin satu paketan. Seperti halnya orang beli mobil di sebuah dealer kemudian diberi hadiah HP android. Semakin bahagialah kehidupan Subali, sehingga bersama istri barunya itu keduanya lalu tinggal di pertapan Guwa Kiskenda peninggalan Prabu Lembusura, yang pernah dikalahkannya dan dibunuhnya.

Rupanya kahyangan Jonggring Salaka sedang obral bidadari menjelang Lebaran. Sebab selain Dewi Tara, adik kandung Dewi Tara yang bernama Dewi Tari juga dihadiahkan kepada Dasamuka raja Ngalengka. Dengan demikian Subali dan Dasamuka beripar atau pripean. Mereka saling berkunjung atau ketemu ketika ada arisan keluarga atau pas takziah orang meninggal.

“Kakang Subali kan pendita sakti, bolehkah saya berguru pada sampean?” kata Dasamuka sekali waktu.

“Ya boleh saja. Tapi wayang yang sudah menguasai Ilmu Kebatinan harus mampu mengendalikan dirinya, mengekang hawa nafsu.” Jawab Subali.

Karena Dasamuka merupakan raja yang sibuk, dia tak bisa nyantrik saban hari. Paling seminggu datang dua kali, lainnya secara virtual melalui jaringan internet. Tapi karena Dasamuka merupakan wayang yang cerdas, segala Ilmu Kebatinan Subali bisa diserapnya dengan baik, padahal itu lebih susah ketimbang Ilmu Ukur dan Aljabar.

Melalui bocoran dari cantrik-cantrik lain, Dasamuka kemudian menjadi tahu bahwa Subali memiliki ajian Pancasona. Pantesan penampilannya awet muda, rambut masih hitam dan kulit belum juga mengeriput. Wajah juga bebas flek. Jalan masih tegap dan gagah, naik busway tak pernah ditawari duduk oleh para penumpang muda.

“Kakang Subali, gue denger kakang punya ajian Pancasona ya? Pantesan rosa-rosa terus kayak Mbah Marijan.” Sanjung Prabu Dasamuka.

“Siapa bilang, hoaks tuh. Yang benar, saya berteman baik sama Aji Pangestu dan Aji Masaid,” jawab Resi Subali mengelak.

Tapi Dasamuka memang pintar mendekati gurunya, sehingga pada akhirnya dia ikhlas memberikan Aji Pancasona tersebut kepada Dasamuka. Sebab ilmu kebatinan satu itu lebih berguna bagi seorang raja ketimbang seorang pendita. Raja kan banyak musuhnya, bahkan selalu ada ancaman kudeta, sedangkan pendita atau resi tak memiliki musuh-musuh politik sebangsa kelompok KAMI atau PA-212.

“Kenapa kangmas Subali rela melepas ajian Pancasona?” tanya Dasamuka menyelidik.

“Karena aku sudah tua. Hidup tanpa kematian juga bakal kesepian nantinya. Teman sudah pada mati masih hidup sendiri, lalu ngobrol sama siapa?”

Tapi Resi Subali mengajukan sarat, dengan memiliki ajian Pancasona, Dasamuka harus bisa lebih arif menjadi raja di Ngalengka, tidak boleh tamak akan kekuasaan, menindas wayang lain. Makan ham (daging babi) boleh, tapi jangan melanggar HAM. Harus siap memayu hayuning bawana, mensejahterakan rakyat Ngalengka. Jangan kerjasama dengan DPR hanya untuk mengakali dana APBN.

“Siap kakang Subali, gue akan mematuhi segala wewaler (larangan) sampeyan. Kapan timbang terima ajian Pancasona bisa digelar?” ujar Dasamuka nafsu banget.

“Nggak usah pakai upacara segala. Dalam suasana begini kan nggak boleh mengumpulkan orang. Gimana sih adi Dasamuka, raja kok sampai lupa protokol kesehatan.” Tegur Resi Subali.

“Oh, iya ding…..” jawab Dasamuka tersipu-sipu, karena dia sendiri memang sering lupa pakai masker.

Demikianlah, ajian Pancasona ditransver langsung ke tubuh Dasamuka melalui prosesi baku sebagaimana biasanya. Sambil berjabatan tangan dan tahan napas, ajian Pancasona segera berpindah tangan. Sejak saat itu Dasamuka terbebas dari kematian, sementara hari kematian Resi Subali kembali dicatat oleh Betara Yamadipati, di mana sebelumnya sudah ditipeks. Dengan sendirinya bertambahlah honor Yamadipati, sebab setiap kali njabut nyawa (mencabut nyawa) ada anggarannya Rp 25.000,- dipotong PPN 10 persen.

Di musim Covid-19 ini Betara Yamadipati sungguh keteteran dengan tugasnya, karena jumlah korban yang harus dicabut nyawanya berlipat-lipat. Terpaksalah dia banyak mengangkat tenaga outsorching untuk mencabut nyawa para korban Covid-19 di berbagai belahan dunia yang sudah tak bisa diatasi.

“Tunda dulu dong Oom, anakku masih kecil-kecil,” rengek pengidap Covid-19 yang cukup parah.

“Bodo amat! Ente bandel sih, disuruh pakai masker saja susah. Nih akibatnya, hihh…..” omel Yamadipati sambil mencabut nyawa seseorang.

Tapi Dasamuka memang tipe wayang yang omongannya mencla-mencle, esok dele sore tempe. Hanya seminggu dia setia pada konsensus. Selebihnya dia kembali ke penyakit lawas yang kadung berurat-berakar. Sudah menjadi rahasia umum, Dasamuka adalah raja yang berani melawan kahyangan Jonggring Salaka secara terbuka dengan kata bully permanen: dewa ora adil.

Memiliki ajian Pancasona justru membuat Dasamuka jumawa dan angkuh. Dengan ajian itu dia justru semakin mengejar putri titisan Dewi Widowati, bidadari kahyangan yang cantiknya selangit. Menurut data yang diperolehnya lewat Mbah Google, Widowati tengah menitis pada Dewi Sinta istri Ramawijaya dari Ayodya. Dan Dasamuka berusaha untuk merebutnya.

“Hai Subali, kenapa ajian Pancasona kamu kasih pada Dasamuka?” tegur Betara Narada ketika datang ke Guwa Kiskenda.

“Maaf pukulun, dia sudah berjanji akan menjadi orang baik, takkan menyalahgunakannya. Jika ternyata dia cidera janji, itu tanggungjawab dia sendiri,” dalih Resi Subali untuk mendebat Patih kahyangan itu. (Ki Guna Watoncarita)