Dendam Lama di Negara Sempalan Soviet

480 views
Dua negara sempalan Uni Soviet di wilayah Kaukasus Selatan: Armenia dan Azerbaijan kembali terlibat konflik militer akibat sengketa lama terkait wilayah Nagorno-Karabakh.

DUA negara sempalan bekas Uni Soviet di wilayah Kaukasus Selatan yakni Armenia dan Azerbaijan kembali terlibat bentrok berdarah akibat persoalan lama terkait wilayah enklave Nagorno-Karabakh.

Sebanyak 16 prajurit Armenia seperti dikutip Reuters (28/9), tewas dan lebih seratus lainnya mengalami luka-luka akibat serangan udara dan artileri yang dilancarkan pihak Azerbaijan, Minggu (27/9) waktu setempat.

Kedua negara juga pernah terlibat konflik di wilayah Nagorno-Karabakh yang menewaskan 200 orang pada 2016.

Nagorno (Bukit) Karabakh ada di wilayah Azerbaijan yang selama ini menjadi salah satu jalur pasokan migas dunia, dihuni etnis Armenia dan  sudah mendeklarasikan kemerdekaannya, memisahkan diri dari Azerbaijan walau sejauh ini belum diakui PBB.

Selain terlibat sengketa terkait wilayah Nagorno Karabakh, perseteruan kedua negara juga diwarnai perbedaan ideologi. Mayoritas penduduk Armenia beragama Kristen, sementara sebagian besar warga Azerbaijan pemeluk Islam syiah.

Seruan Menahan Diri     

Rusia, Perancis, Amerika Serikat dan Uni Eropa meminta agar kedua negara menghentikan aksi kekerasan dan kembali ke meja perundingan, kecuali Turki yang terang-terangan mendukung  Azerbaijan yang merupakan sekutu tradisionalnya.

Sebelumnya konflik militer antara Armenia dan Azerbaijan pecah pada pada 1988 dan memuncak saat keduanya mereka dari Uni Soviet pada 1991. Dalam gencatan senjata, Mei 1994, Armenia berhasil menguasai Nagorno-Karabakh dan juga sejumlah wilayah Azerbaijan lainnya.

Wilayah kantong Nagorno-Karabakh dengan luas sekitar 4.000 Km2 dihuni sekitar 145.000 penduduk yang saat ini berstatus republik yang mendeklarasikan kemerdekaannya dari Azerbaijan pada 10 Des. 1991.

Komunitas in’l secara de jure masih menganggap Nagorno-Karabakh yang mayoritas penduduknya adalah etnis Armenia sebagai bagian dari Azerbaijan, namun kedua negara pada 2006 sepakat menggelar referendum untuk menentukan masa depan wilayah itu.