Future Leader Challenge 2020, Ajak Pemuda Menjadi Pemimpin yang Inovatif & Solutif

15 views

JAKARTA – Sebagai lembaga kemanusiaan yang peduli pada peningkatan kapasitas pemuda di Indonesia, Dompet Dhuafa Pendidikan menginisiasi Beasiswa Aktivis Nusantara (BAKTI NUSA), sebuah program pengembangan kepemimpinan bagi aktivis mahasiswa untuk menjawab tantangan dan kebutuhan bangsa di Era Revolusi Industri 4.0. Minggu (27/9)

FLC 2020 berlangsung pada 12-27 September 2020 yang dilaksanakan secara daring via ZOOM. Mengusung tema “Kolaborasi Kebaikan untuk Indonesia Berdaya”, FLC 2020 akan menggabungkan kepemimpinan nasional berlandaskan pengetahuan dan kompetensi milenial dalam mewujudkan Indonesia Berdaya. Menurut Muhamad Saepudin, Supervisor BAKTI NUSA, para pemuda butuh wadah khusus menampung potensi besar mereka, diharapkan FLC 2020 dapat menginspirasi dan memacu mereka menyelesaikan masalah di era teknologi sebagai Disruptive Leaders.

Hadir di FLC 2020 diantaranya beberapa tokoh nasional seperti Ir.Jamil Azzaini, M.M, Inspirator, CEO Kubik Leadership; Dr. H. Sandiaga Salahuddin Uno, BBA, M.BA, Pengusaha dan politisi nasional; dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG, Kepala BKKBN, eks Bupati Kulon Progo; Dr. Emil E Dardak, B.Bus., M..Sc, Wakil Gubernur Jawa Timur; dan Prof.Dr. H. Irwan Prayitno, S.Psi., M.Sc, Gubernur Sumatra Barat.

Sebagai wadah berkumpulnya para pemuda hebat seluruh Indonesia, BAKTI NUSA menggelar perhelatan akbar Future Leader Challenge (FLC) 2020. FLC merupakan perhelatan nasional sebagai sarana pengembangan kemampuan kepemimpinan untuk enam puluh penerima manfaat BAKTI NUSA terpilih dari empat belas kampus besar di Indonesia seperti UI, IPB, UNPAD, ITB, UGM, UNS, UNSRI, UNAIR, ITS, UNDIP, UB, UNAND, UNSOED, dan USU.

Pada zaman ini penting bagi pemuda Indonesia memahami bagaimana cara menjadi pemimpin yang disruptif. Sebab dengan menjadi pemimpin yang disruptif, kita akan berhasil mencapai tujuan yang diinginkan. “Ada tiga prinsip untuk menjadi disruptive leader, diantaranya create future, transform people, dan fast and discipline execution,” ujarnya. Tiga prinsip untuk menjadi pemimpin yang disruptif tersebut dijabarkan secara jelas dan lebih dalam oleh Jamil Azzaini kepada para peserta.