AJI PANCASONA (3)

Dasamuka yang tengah kabur membawa terbang Sinta, tahu-tahu diserang garuda Jatayu.

BETARA Narada geleng-geleng kepala. Setelah menjadi  resi dengan kostum jubahnya, Subali jadi wayang radikal. Berani ngeyel dan mengkritisi pemerintahan Jonggring Salaka di kahyangan. Jangan-jangan kelompok KAMI dibolehkan buka cabang di Guwa Kiskenda. Celaka bila Jonggring Salaka hendak diselamatkan pula. Memangnya pemerintahan Betara Guru mau tenggelam, apa?

Mata Betara Narada kemudian menyapu segenap ruangan pertapan Guwa Kiskenda. Wah, sekarang memang tampak hedonis banget untuk ukuran Resi Subali. Lantai dipasangi keramik KW-1, di sejumlah sudut ruangan dipasang AC. Patih kahyangan itu langsung bisa membaca apa yang terjadi. Rupanya ajian Pancasona dibarter dengan program Bedah Rumah oleh Prabu Dasamuka.

“Subali, sebetulnya resi atau begawan tak boleh tampil hedonis. Tapi karena yang punya Dewas (Dewan Pengawas) itu hanya TVRI dan KPK, kamu bisa selamat dari sanksi. Tapi tolong, tarik kembali Pancasona dari Dasamuka, ini bisa jadi ancaman dunia wayang semesta.

“Maaf pukulun, nggak bisa. Bagaimana mungkin keramik dan AC ini dibongkar lagi.” Jawab Resi Subali ngeyel.

“Terserah lu, ah….” Jawab Betara Narada langsung pergi tanpa pamit.

Sebagaimana telah diprediksi kahyangan, di tangan Dasamuka ajian Pancasona bukan untuk memayu hayuning bawana (menyelamatkan dunia), tapi justru untuk berburu wong ayu. Sebab setelah menguasai ajian tersebut, Dasamuka serius hendak merebut Dewi Sinta. Maka sesuai laporan intelijen Kala Marica, Dasamuka harus menyatroni hutan Dandaka, karena di sanalah Rama dan Sinta berada, ditemani sang adik, Lesmana.

Ketika Rama dan Lesmana mengejar kidang kencana yang sesungguhnya penjelamaan Kala Marica, Dasamuka yang menyamar seorang pendita miskin, berhasil mendekati tempat persembunyian Dewi Sinta. Dengan mimik dan gaya yang sungguh bisa bikin orang iba, dia minta belas kasihan Dewi Sinta.

“Kasihan, kamu jadi begawan kok sampai ngemis begini, apa nggak punya murid?” ujar Dewi Sinta sambil buka dompet.

“Kan padepokan juga ditutup, tak boleh kegiatan belajar-mengajar tatap muka.” Jawab pendita abal-abal.

“Apa nggak dapat bantuan BLT dan sembako Rp 600.000,- untuk begawan terlantar?”

“Boro-boro…. Namaku belum terdaftar, jadi dilewati saja.”

Begitu Dewi Sinta mengangsurkan uang Rp 20.000.- an ijo, langsung ditarik tangannya dan kemudian dibopong dibawa terbang ke yang langit biru, awan putih amat banyak menghias angkasa. Tentu saja Dewi Sinta menjerit-njerit sambil meronta minta dilepaskan, tapi Dasamuka tak peduli. Dia terus terbang melesat tinggi di ketinggian 1.000 kaki meja. Melihat ke bawah, bangunan rumah jadi kecil-kecil seperti BTN tipe 21 semua.

“Lepaskan aku, Dasamuka, lepaskan aku. Toloooong!”

“Ngawur saja kamu, di ketinggian begini minta dilepaskan. Jatuh jadi ampas kamu, ha ha ha…..” jawab Dasamuka dengan pongahnya.

Titisan Widowati yang selama ini didambakan dan diimpikan, kini telah berada di tangan. Tinggal di bawa ke hotel, selesailah dahaga asmara yang telah ditahannya selama ini. Tapi sayang, gara-gara Dasamuka lupa membawa hasil test swab seharga Rp 2 juta itu, tak ada hotel yang mau menerima. Terpaksa raja Alengka itu terbang lagi sambil terus mondong Dewi Sinta.

Lolongan tangis Dewi Sinta rupanya terdengar oleh burung garuda Jatayu. Dia segera terbang mendekati arah suara. Ternyata lagi-lagi Dasamuka yang terkenal suka bawa cewek ke mana-mana. Karena wanita itu selalu menyebut nama Prabu Rama, bisa dipastikan bahwa wanita itu adalah Dewi Sinta. Sebab saat menikah dulu, Jatayu juga kondangan. MC-nya kala itu RMT Sriyono dari Tangsel. Jatayui pun berusaha mengejarnya untuk memberikan pertolongan seperlunya.

“Lepaskan Dewi Sinta! Raja kok nylekuthis (bikin malu), nyolong bini orang seenaknya saja.” Omel Sempati sambil memukulkan sayapnya ke kepala Jatayu. Pletakkk.

“Anjay, eh bajinguk! Siapa elo, mukul orang tanpa permisi.” Dasamuka gentian memaki burung Jatayu yang dengan cepat telah berhasil merebut Dewi Sinta.

Dasamuka jatuh berdebam di bumi. Jika bukan Dasamuka raja nan sakti, pastilah wasalam, minimal dilarikan ke Cimande karena patah tulang. Dasamuka sebetulnya juga langsung koit, tapi karena telah memiliki ajian Pancasona, beberapa menit kemudian hidup lagi. Dan kembali dia terbang ke langit mengejar garuda Jatayu sambil bawa penthungan gada Rujakwuni yang satu tipe dengan gada Rujakpolo milik Werkudara, tapi ini tahunnya lebih muda.

Dengan cepatnya garuda Jatayu terkejar. Sayap yang tengah mengempit Dewi Sinta itupun digebuknya sekuat tenaga, sehingga patah. Dewi Sinta terlempar dan disambar Dasamuka untuk dibawa pulang ke Ngalenga. Sedangkan si burung malang menghempas bumi sementara napasnya tinggal satu dua.

“Jangan terlalu jumawa Dasamuka, pada saatnya nanti kamu akan tewas gara-gara Dewi Sinta,” kutuk Jatayu.

“Aess prekkkk……” jawab Dasamuka angin-anginan.

Tapi sebelum ajal tiba, ketika Yamadipati sudah mulai kelinteran di sekitar itu, datanglah Raden Rama dan Lesmana. Seakan meninggalkan wasiat, garuda Jatayu bilang bahwa yang membawa lari adalah raja Ngaleng……. Setelah itu nyawa pun lepas. Rama – Lesmana segera menguburkan secara biasa. Karena Jatayu mati bukan karena terkena Covid-19, melainkan tewas membela Dewi Sinta.

Bagi Rama dan Lesmana sungguh bingung menerjemahkan maksud “raja Ngaleng” tersebut. Tapi setelah buka Mbah Google baru jelas. Ternyata nama lengkap negara itu Ngalengkadiraja, sedangkan nama rajanya adalah Dasamuka. Lokasi negara itu kira-kira di sebelah selatan India.

Baru saja Rama-Lesmana membicarakan rencana menuju Ngalengka, tiba-tiba datang seorang manusia berwajah kera, namanya Sugriwa. Dia mengaku dari Pancawati. Sampi datang menemui kedua ksatria itu karena katanya berdasarkan petunjuk dewa. Kata dewa di Jonggring Salaka, yang bisa menyelesaikan problemnya hanyalah dua ksatria muda yang tengah berburu di hutan Dandaka.

“Memangnya kisanak punya problem apa?” Ramawijaya bertanya santun.

“Biniku direbut orang. Hanya kalian berdua yang bisa membantuku,” kata Sugriwa.

“Lho, kok sama. Biniku juga baru dibawa kabur orang.” Jawab Raden Rama jujur dan apa adanya.  (Ki Guna Watoncarita)